Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (Foto: AntaraAkbar Nugroho Gumay
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pada perdagangan Jumat (19/6), nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah ke level Rp17.801 per dolar AS. Melemah 7 poin ketimbang penutupan sehari sebelumnya. Lalu, bagaimana dengan perdagangan pekan depan?
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan, rupiah berpeluang melemah pada Senin (22/6), berada di kisaran Rp17.800-Rp17.850 per dolar AS.
Sementara untuk perdagangan sepekan, dia memprediksi, mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.500-Rp18.000 per dolar AS. “Dampak dari sentimen geopolitik di Timur Tengah,” tegas Ibrahim di Jakarta, Minggu (21/6/2026).
Faktor global yang memengaruhi pergerakan rupiah, lanjut Ibrahim, meliputi kesepakatan sementara AS dan Iran terkait Selat Hormuz yang sempat menurunkan harga minyak, meski serangan udara Israel pada 18 Juni 2026 kembali memicu keraguan pasar.
Tekanan terhadap mata uang domestik, menurutnya, juga datang dari laporan 2026 Global Market Accessibility Review yakni Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menurunkan penilaian Indonesia pada kriteria arus informasi.
“Penurunan peringkat ini mencerminkan minimnya transparansi pada data kepemilikan saham dan aktivitas pasar. Kondisi tersebut dinilai merusak proses pembentukan harga yang wajar serta membatasi kemampuan investor global dalam mengukur jumlah saham beredar (free float) yang sebenarnya dari perusahaan-perusahaan tercatat,” ujar Ibrahim.
Laporan MSCI menyoroti efisiensi pasar valuta asing di Indonesia yang dianggap masih memiliki berbagai batasan regulasi domestik. “Tidak ada pasar mata uang lepas pantai (offshore) yang efisien, dan terdapat berbagai batasan pada pasar mata uang domestik (onshore) di Indonesia,” ungkap riset MSCI.
Di sisi lain, faktor internal dari kebijakan moneter dinilai menjadi penahan pelemahan yang lebih dalam dari pergerakan eksternal tersebut.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyebut adanya kenaikan kepemilikan asing di instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai Rp238,1 triliun per 15 Juni 2026. Langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan terbukti efektif. “Sehingga itu turut mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry.
Melalui kombinasi kebijakan stabilisasi dan penguatan sinergi bersama pemerintah, kurs rupiah sempat menguat 0,76 persen ke level Rp17.730 per dolar AS pada 17 Juni 2026 dibandingkan akhir Mei.
“Nilai tukar rupiah menguat, didukung respons kebijakan stabilisasi Bank Indonesia,” kata Perry.
Dalam hal ini, lanjutnya, BI juga mengantisipasi gejolak pasar global dengan menaikkan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin, menjadi 5,75 persen. Sebelumnya, BI sudah mengerek BI rate menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













