Samsung Akhirnya Akui Kesalahan Strategi Galaxy Z Fold Series Selama 7 Tahun?

Setelah tujuh generasi mengembangkan smartphone lipat, Samsung mengklaim telah memasuki fase baru dalam inovasi perangkat foldable melalui Galaxy Z Fold 8 Series. Perusahaan asal Korea Selatan itu tidak hanya berupaya membuat perangkat lebih tipis, tetapi juga merancang ulang struktur layar, material, engsel (hinge), hingga sistem baterai sebagai satu kesatuan.

Dalam wawancara dengan Samsung Newsroom, Executive Vice President and Senior Executive of Mobile R&D Office – Hardware Samsung Electronics, Sunghoon Moon, menjelaskan bahwa seluruh pengembangan Galaxy Z Series berangkat dari kebiasaan pengguna dalam memakai smartphone lipat setiap hari.

“Sejak awal, kami melihat foldable bukan hanya sebagai form factor baru, tetapi sebagai cara baru bagi pengguna dalam berinteraksi dengan smartphone. Selama tujuh generasi, kami terus mempelajari bagaimana pengguna membuka, melipat, membawa, hingga mengandalkan perangkat mereka dalam keseharian,” kata Moon dalam rilis yang diterima inilah.com, Jumat (31/7).

Menurutnya, riset tersebut melahirkan tiga fokus utama Samsung, yakni menghadirkan layar yang lebih luas, desain yang lebih tipis dan ringan, serta performa flagship tanpa mengorbankan durabilitas.

“Menghadirkan ketiga hal tersebut secara bersamaan menjadi tantangan terbesar dalam pengembangan Galaxy Z Series terbaru,” ujarnya.

Samsung Tak Lagi Mengembangkan Komponen Secara Terpisah

Moon menjelaskan, salah satu perubahan terbesar dalam pengembangan Galaxy Z Fold 8 adalah pendekatan rekayasa perangkat secara menyeluruh.

Alih-alih meningkatkan satu komponen tertentu, Samsung mengklaim seluruh bagian smartphone kini dirancang sebagai satu sistem yang saling terhubung.

“Ketika kami ingin membuat perangkat lebih tipis, display, hinge, baterai, sistem pendingin, hingga struktur internal harus didesain ulang secara bersamaan,” ujar Moon.

“Samsung tidak mengoptimalkan setiap komponen secara terpisah, melainkan mengembangkan seluruh perangkat sebagai satu sistem, mulai dari pemilihan material, desain komponen, proses manufaktur, hingga validasi.”

Pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Galaxy Z Fold 8 hadir dengan desain yang lebih tipis dibanding generasi sebelumnya.

Flex Titanium Diklaim Kurangi Lipatan Layar

Salah satu inovasi yang paling banyak disorot Samsung adalah Flex Titanium, yakni struktur layar baru yang menggabungkan titanium plate dan titanium-alloy film.

Material ini diklaim mampu memperkuat struktur layar sekaligus memangkas ketebalan modul display hingga sekitar 10 persen.

Menurut Moon, penggunaan titanium bukan tanpa tantangan.

“Titanium dipilih karena memiliki kekuatan tinggi dan tahan terhadap perubahan bentuk akibat tekanan. Namun, tantangan sebenarnya adalah mengembangkan proses manufaktur dan desain struktur agar material tersebut tetap fleksibel untuk smartphone foldable,” jelasnya.

Samsung mengatakan ruang tambahan yang dihasilkan dari desain baru tersebut dimanfaatkan untuk menambah ruang bagi baterai, sistem pendingin, serta kamera.

Selain itu, Flex Titanium juga diklaim membantu mengurangi tampilan crease atau lipatan layar yang selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar smartphone lipat.

Meski demikian, Samsung belum mengungkap data kuantitatif mengenai seberapa besar pengurangan tampilan lipatan dibanding generasi sebelumnya. Efektivitas teknologi ini kemungkinan baru dapat dinilai melalui pengujian independen setelah perangkat digunakan dalam jangka panjang.

Baterai Berubah, Bukan Sekadar Kapasitas

Samsung juga mengubah pendekatan pada sistem baterai.

Galaxy Z Fold 8 Ultra kini menggunakan baterai 5.000 mAh dengan teknologi silicon-carbon anode yang diklaim memiliki kepadatan energi lebih tinggi dibanding material konvensional.

Menurut Moon, peningkatan tidak hanya dilakukan pada kapasitas baterai.

“Kami tidak hanya meningkatkan kapasitas baterai, tetapi merancang ulang keseluruhan battery system,” katanya.

Samsung juga mengadopsi dual-path charging architecture yang diklaim mampu mendistribusikan daya lebih efisien sehingga pengisian cepat 45W menjadi lebih stabil sekaligus membantu mengendalikan suhu perangkat.

Durabilitas Masih Jadi Ujian Sesungguhnya

Samsung mengungkapkan Galaxy Z Series terbaru telah melewati lebih dari 100 pengujian reliabilitas, mulai dari uji lipat berulang, uji jatuh, tekanan, kelembapan, hingga paparan debu.

Bagi Moon, aspek durabilitas menjadi fondasi utama dalam pengembangan smartphone lipat.

“Bagi kami, durabilitas bukan hanya soal desain, tetapi juga harus dibuktikan melalui pengujian. Kami menguji keseluruhan sistem foldable dalam berbagai kondisi yang mencerminkan penggunaan sehari-hari untuk memastikan perangkat dapat diandalkan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Namun Samsung belum merinci jumlah siklus lipatan yang mampu ditahan Galaxy Z Fold 8 maupun Fold 8 Ultra. Karena itu, pengujian dari lembaga independen dan pengalaman pengguna nantinya akan menjadi ukuran penting untuk memverifikasi klaim tersebut.

Persaingan Foldable Kini Tak Lagi Sekadar Soal Ketebalan

Dalam beberapa tahun terakhir, produsen seperti Honor, Oppo, Vivo, hingga Huawei berlomba menghadirkan smartphone lipat yang semakin tipis dengan baterai lebih besar.

Melalui Galaxy Z Fold 8 Series, Samsung tampaknya mencoba menggeser fokus persaingan dari sekadar mengejar desain paling tipis menjadi peningkatan pengalaman penggunaan secara menyeluruh melalui material baru, sistem baterai, dan optimasi perangkat lunak.

Apakah strategi tersebut mampu mempertahankan dominasi Samsung di pasar smartphone lipat, jawabannya akan sangat bergantung pada pengalaman penggunaan nyata, bukan hanya spesifikasi maupun klaim di atas panggung peluncuran produk.