Sikap arogansi dan nirempati kembali dipertontonkan oleh jajaran petinggi rezim Zionis. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, dengan bangga mengunggah video yang menampilkan tindak kekerasan tentara Israel (IDF) terhadap para relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF).
Dalam video yang diunggah di akun X (sebelumnya Twitter) pribadinya, Ben Gvir memamerkan momen mengerikan saat aparat menjambak rambut seorang relawan perempuan.
Di latar belakang, tampak puluhan relawan lainnya dipaksa dalam posisi berlutut hingga bersujud dengan tangan terikat ke belakang layaknya tawanan perang. Beberapa relawan bahkan terlihat ditarik dan diseret secara paksa.
Bukannya merasa prihatin, Ben Gvir justru menjadikan penderitaan para aktivis itu sebagai lelucon. Ia tampak tertawa-tawa sambil mengibarkan bendera Israel.
“Selamat datang di Israel,” tulis Ben Gvir dengan nada mengejek dalam keterangan videonya, yang segera memicu gelombang kemarahan global.
Kecaman dari Dalam Negeri
Tindakan provokatif Ben Gvir nyatanya tidak hanya memancing amarah dunia internasional, tetapi juga memicu perpecahan di internal kabinet Israel sendiri. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, secara terbuka melontarkan kritik tajam dan menilai kelakuan menteri keamanan tersebut sengaja merugikan negara melalui sebuah pertunjukan yang “memalukan”.
“Anda telah menghancurkan upaya luar biasa, profesional, dan sukses yang sudah dilakukan begitu banyak orang, dari tentara IDF hingga staf Kementerian Luar Negeri dan banyak pihak lainnya,” kecam Sa’ar di platform X.
Ia kemudian menutup pernyataannya dengan penegasan tajam, “Tidak, Anda bukanlah wajah Israel.”
PM Italia Murka, Tuntut Permintaan Maaf
Video penyiksaan tersebut langsung memicu reaksi keras dari negara-negara asal para relawan, salah satunya Italia. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, mengutuk keras perlakuan tak manusiawi tersebut dan mendesak Israel untuk segera membebaskan warga negaranya, seraya menuntut permintaan maaf resmi.
“Tak bisa ditoleransi para pengunjuk rasa ini, yang di antaranya banyak warga negara Italia, diperlakukan seperti ini. Tindakan tersebut jelas melanggar martabat manusia,” desak Meloni.
Nasib 430 Relawan dan 9 WNI
Seperti diketahui, armada GSF yang terdiri dari sekitar 50 kapal bertolak dari Turki barat daya pada Kamis (14/5/2026) pekan lalu dalam upaya menembus blokade Gaza. Namun, mereka disergap di perairan internasional secara brutal oleh pasukan Israel.
Berdasarkan informasi terbaru hingga Rabu (20/5/2026), sebanyak 430 relawan GSF telah ditangkap dan dibawa ke Pelabuhan Ashdod di Israel selatan.
“Ke-430 aktivis telah dipindahkan ke kapal-kapal Israel dan sedang menuju Israel, di mana mereka dapat bertemu dengan perwakilan konsuler mereka,” ungkap seorang juru bicara Kemlu Israel, yang tetap berkilah bahwa operasi GSF adalah kedok untuk melayani Hamas.
Dari ratusan relawan tersebut, terdapat sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang turut ditahan. Pemerintah Indonesia secara tegas telah mengecam aksi pencegatan dan penangkapan ini, serta terus menggerakkan saluran diplomatik agar otoritas Israel segera membebaskan seluruh WNI tanpa syarat.
Tontonan kekerasan yang dipamerkan oleh Ben Gvir kini semakin mendesak perlunya intervensi internasional atas keselamatan para relawan.









