Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (5/5/2026). (Foto: Antara/Asprilla Dwi Adha)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Presiden Direktur Centre for Banking Crisis (CBC), Achmad Deni Daruri, mendorong Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa segera menerapkan aturan anyar terkait devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) yang masih banyak ‘diparkir’ di luar negeri.
Ia berharap aturan DHE SDA yang baru efektif menarik dana hasil ekspor kembali menetap di Indonesia dalam jangka panjang. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga cadangan dolar AS di dalam negeri.
Menurut Deni, tambahan pasokan dolar AS akan sangat membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, selain untuk mendukung kebutuhan ekonomi lainnya.
“Sekarang dolar AS setara Rp17.600, saya yakin bakal terjun bebas ke Rp17.000 per dolar AS, dan akan turun lagi jika DHE SDA masuk,” imbuhnya.
Saat ini, kata Deni, masih banyak pengusaha atau eksportir yang menginvestasikan dananya di luar negeri. Nilainya pun cukup besar, yakni lebih dari 8 miliar dolar AS. “Saya optimistis, setelah aturan DHE SDA berlaku Juni depan, banyak dolar AS yang mengalir ke Indonesia,” ujarnya.
Agar aturan DHE SDA efektif, Deni menyarankan Menkeu Purbaya melalui Kementerian Keuangan memberikan insentif yang sangat menarik sehingga porsi DHE SDA yang “pulang kampung” ke Indonesia bisa meningkat signifikan.
“Beri insentif yang menarik, permudah perizinan ekspor agar mereka berlomba-lomba. Kalau ekspor kita naik, maka DHE naik. Alhasil, persediaan dolar AS kita melonjak. Saya yakin nilai tukar rupiah bakal menguat dalam waktu cepat,” bebernya.
Peluang lonjakan ekspor, menurut Deni, cukup terbuka karena sejumlah kerja sama perdagangan telah disepakati Indonesia dengan negara lain.
Salah satu yang terbaru adalah perjanjian dagang Indonesia dengan Uni Eropa melalui Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang dinilai memperbesar akses pasar ekspor Indonesia.
Tercatat, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup di level Rp17.597 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (15/5/2026), atau melemah 0,39 persen dibanding sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.529 per dolar AS.
Level tersebut sekaligus menjadi posisi penutupan rupiah terlemah sepanjang sejarah. Dalam sepekan terakhir, rupiah melemah sekitar 1 persen di pasar spot. Sementara dalam satu bulan terakhir, mata uang Garuda mengalami depresiasi sekitar 2,645 persen.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













