Pembentukan panitia kerja (panja) pengawasan impor gula oleh Komisi VI DPR RI memunculkan harapan baru bagi petani tebu dan pelaku industri gula di Bondowoso, Jawa Timur.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah melemahnya serapan gula lokal seperti yang dialami saat musim giling pada tahun lalu.
Anggota Komisi VI DPR RI, Nasim Khan, mengatakan pengawasan impor gula diperlukan agar produksi gula dalam negeri tetap terserap maksimal dan tidak terganggu kebijakan impor maupun peredaran gula rafinasi.
“Yang pasti kita berharap PG giling lancar, blotong atau limbah hasil penggilingan tebu bisa maksimal ditekan dengan sistem yang diberlakukan, hasil maksimal baik rendemen dan pembayaran petani juga maksimal,” ujar Nasim kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).
Ia juga mendorong terjalinnya sinergi antara pemerintah daerah dan pabrik gula, agar produksi tebu petani Bondowoso tidak banyak keluar daerah, seperti yang sempat terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
“Pihak kabupaten bisa sinergi dengan PG agar produksi dalam daerah tidak bocor keluar seperti masa pemerintahan lalu. Semoga ada kesepakatan bersama,” katanya.
Menurut Nasim, panja pengawasan impor gula dibentuk untuk memastikan regulasi impor benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan nasional serta kepentingan industri yang memang memerlukan pasokan tambahan.
“Pasti regulasi impor gula yang akan kita bahas sesuai kebutuhan dalam negeri dan industri yang perlu, sehingga bisa diawasi maksimal,” tegas legislator PKB tersebut.
Sementara itu, musim giling tebu 2026 di PG Pradjekan telah dimulai sejak Mei dan dijadwalkan berlangsung hingga September mendatang. Kalangan petani maupun pihak pabrik optimistis target produksi gula tahun ini dapat tercapai.
Ketua APTRI PG Pradjekan Bondowoso, Rolis Wikarsono, mengatakan kondisi pertumbuhan tebu tahun ini tergolong baik karena didukung cuaca yang relatif stabil. Selain itu, proses tanam hingga perawatan tanaman berjalan tanpa kendala berarti.
“Tidak ada keterlambatan dalam proses tanam maupun perawatan hingga pemberian pupuk oleh petani,” ujarnya.
Petani bersama pihak pabrik menargetkan bahan baku musim giling mencapai 5,5 juta kuintal atau sekitar 550 ribu ton tebu. Dari target tersebut, produksi gula ditargetkan minimal mencapai 40 ribu ton.
Menurut Rolis, petani siap memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut dan berkomitmen memprioritaskan pengiriman tebu ke PG Pradjekan dibandingkan ke pabrik gula lain.
Saat ini, jumlah anggota APTRI Bondowoso mencapai sekitar 750 petani dengan total luasan lahan lebih dari 6.000 hektare yang tersebar di berbagai wilayah Bondowoso.
Selain target produksi, petani juga berharap pemerintah segera menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) gula petani. Tahun lalu, HAP berada di angka Rp14.500 per kilogram dan tahun ini diharapkan naik menjadi di atas Rp15 ribu per kilogram.
“Dengan kenaikan biaya produksi, petani berharap ada penyesuaian harga agar usaha tani tebu tetap memberikan keuntungan yang layak,” kata Rolis.
Pelaksana Harian General Manager PG Pradjekan, Chandra Sakti Wijaya, mengatakan perawatan tebu yang baik menjadi faktor utama peningkatan rendemen gula.
Dalam Rencana Anggaran Kerja Perusahaan (RAKP), PG Pradjekan menargetkan rendemen sebesar 7,3 persen. “Dengan capaian itu, produksi minimal 40 ribu ton gula optimistis dapat diraih,” ujarnya.
Ia mengakui pada musim sebelumnya sempat terjadi kendala penyerapan akibat kapasitas penampungan gula penuh. Namun, kondisi tersebut juga dipengaruhi melemahnya serapan pasar akibat kebijakan impor gula nasional.
Karena itu, pihaknya menyambut baik pembentukan panja pengawasan impor gula yang diharapkan mampu menjaga stabilitas pasar sekaligus meningkatkan serapan gula petani dalam negeri.
“Kalau harga gula bisa di angka Rp15 ribu per kilogram, perputaran ekonomi gula rakyat bisa mencapai Rp600 miliar,” pungkas Chandra yang juga menjabat sebagai Cluster Head PG Region IV.













