Sektor pariwisata Uni Emirat Arab (UEA) kini tengah terpuruk. Gemerlap Dubai yang biasanya menjadi magnet pelancong dunia, mendadak redup imbas berkecamuknya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran. Konflik bersenjata yang pecah sejak 28 Februari lalu itu kini menciptakan krisis eksistensial bagi industri pelesir di kawasan Teluk.
Laporan terbaru dari Dubai Airport mengonfirmasi kelesuan ini. Sepanjang kuartal pertama 2026, lalu lintas penumpang anjlok drastis, menyusut setidaknya 2,5 juta orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Bahkan pada Maret lalu, jumlah penumpang terjun bebas hingga 66 persen karena warga asing memilih menjauhi kawasan Teluk demi keamanan.
Otoritas Cabut Pembatasan Udara
Merespons situasi yang kian mengkhawatirkan, Otoritas Penerbangan Sipil UEA akhirnya mengambil langkah berani dengan mencabut pembatasan perjalanan udara. Sebelumnya, pembatasan ketat sempat diberlakukan menyusul serangan balasan dari Teheran yang memanaskan ruang udara kawasan.
“Keputusan ini diambil setelah penilaian komprehensif terhadap kondisi operasional dan keamanan, berkoordinasi dengan pihak berwenang terkait,” bunyi pernyataan resmi penerbangan sipil UEA, sebagaimana dikutip dari Middle East Eye, Kamis (7/5/2026).
Langkah ini diharapkan menjadi napas buatan bagi ekonomi UEA yang sangat bergantung pada sektor jasa dan pariwisata. Namun, di lapangan, optimisme otoritas belum sepenuhnya menular ke para pelaku usaha.
Kisah Horor dari Lantai 20
Charity, seorang pekerja hotel di Dubai, menceritakan betapa mencekamnya suasana saat eskalasi meningkat. Selama bulan Ramadan lalu, hotel tempatnya bekerja beralih fungsi menjadi suaka bagi penumpang yang terlantar.
Fasilitas mewah seperti kolam renang ditutup total, dan tamu yang menginap di lantai atas harus dievakuasi ke lantai bawah.
“Tamu di lantai 20 harus dipindahkan ke lantai bawah untuk menghindari dampak serangan. Setelah itu, segalanya benar-benar melambat,” kenang Charity.
Kini, ia hanya bisa berharap kebijakan baru pemerintah bisa mengembalikan keramaian. “Kami butuh wisatawan asing untuk kembali. Kita lihat saja dalam seminggu ke depan apakah mereka benar-benar datang,” ujarnya getir.
Bisnis Lokal Mulai Gulung Tikar
Kondisi serupa dirasakan Tetiana, seorang pemilik bisnis di kawasan elite City Walk Dubai. Menurutnya, masalah utama saat ini bukan sekadar rasa takut, melainkan hilangnya daya tarik Dubai sebagai destinasi yang nyaman dan bernilai.
“Orang-orang merasa tinggal di sini sudah tidak sepadan lagi. Bukan karena takut, tapi mereka merasa atmosfernya sudah tidak berharga,” ungkap Tetiana.
Dampak ekonominya sangat nyata. Tetiana membeberkan bahwa banyak pemilik usaha yang kini mulai melikuidasi aset secara mendadak.
Jika situasi keamanan di kawasan tak kunjung stabil, Dubai terancam kehilangan statusnya sebagai pusat kemewahan dunia dalam waktu yang lebih lama.













