Nico Paz dari Como 1907 berbicara dengan Cesc Fabregas, Pelatih Kepala Como 1907 selama pertandingan Semifinal Coppa Italia antara FC Internazionale dan Como di San Siro pada 21 April 2026 di Milan, Italia. (Foto: Marco Luzzani/Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pelatih Como 1907, Cesc Fabregas, menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa marah meski timnya baru saja membuang keunggulan dua gol dan menelan kekalahan dramatis 2-3 dari Inter Milan pada leg kedua babak semifinal Coppa Italia, Selasa (21/4) waktu setempat.
Tampil mengejutkan dengan formasi tiga bek, Como sejatinya selangkah lagi mencetak sejarah lolos ke final usai unggul 2-0 lewat gol Martin Baturina dan Lucas Da Cunha. Namun, kenangan pahit saat mereka dihajar comeback 3-4 oleh lawan yang sama di Serie A pada 12 April lalu kembali terulang. Sepasang gol Hakan Calhanoglu dan lesakan Petar Sucic di paruh kedua akhirnya mengubur mimpi klub berjuluk I Lariani tersebut.
Meski tersingkir dengan menyakitkan, Fabregas memilih untuk melihat gambaran yang lebih besar terkait perkembangan pesat timnya. Ia mengingatkan kembali bahwa Como adalah klub yang sempat dinyatakan bangkrut pada tahun 2017 dan masih berkutat di kasta ketiga (Serie C) hingga tahun 2021 lalu.
“Permainan berubah setelah gol yang membuat skor menjadi 2-1, tetapi sebelumnya kami memiliki peluang lewat (Assane) Diao untuk unggul 3-1 saat ia tinggal berhadapan satu lawan satu, jadi hal itu sebenarnya bisa mengubah arah pertandingan,” ungkap Fabregas kepada Sport Mediaset.
“Saya tahu dari mana kami memulai perjalanan ini dua setengah tahun yang lalu, sekarang kami berjuang untuk masuk ke Final Coppa Italia, kami nyaris mengalahkan Inter dua kali dalam beberapa minggu. Ini semua sangat menyenangkan, tetapi saya tahu dari mana kami berasal. Saya tidak bisa marah malam ini,” tambahnya.
Mengakui Kelas Sang Lawan
Fabregas bersikap realistis saat membandingkan kualitas kedalaman skuadnya dengan Inter Milan. Ia menyadari betul bahwa timnya berhadapan dengan sekumpulan pemain bermental juara yang sudah lama bermain bersama di level tertinggi Eropa.
“Kami tahu bahwa kami masih kekurangan sesuatu. Saya tahu di mana posisi mereka dalam proses ini, dan kami menghadapi tim berisi para veteran yang telah bersama selama enam atau tujuh tahun. Mereka berada di Final Liga Champions musim lalu, mereka adalah tim pemenang,” puji legenda Arsenal dan Barcelona tersebut.
“Kita harus melanjutkan perjalanan kita, penting bagi saya untuk melihat di mana posisi kita. Apakah kita berada di level yang sama dengan Inter? Tidak, tetapi kami sudah dekat. Kami hanya tidak sekuat mereka di kedua area penalti,” aku Fabregas.
Proses Panjang dan Kepercayaan pada Pemain Muda
Fabregas juga menganalogikan situasinya dengan awal karier manajerial Jurgen Klopp untuk menjaga moral anak asuhnya agar tidak terpuruk usai kegagalan ini.
“Saya banyak menang dan banyak kalah dalam karier saya, jadi saya tahu ini semua bagian dari proses. Saya melihat wawancara Jurgen Klopp di mana ia mengatakan ia kalah dalam tujuh final piala pertamanya, dan ia adalah salah satu pelatih terbaik dalam sejarah,” kenangnya.
Selain itu, Fabregas menyoroti komitmen Como dalam memberikan jam terbang bagi para pemain muda sebagai sebuah pencapaian tersendiri yang patut dibanggakan.
“Kami adalah salah satu dari tiga atau empat tim teratas di Eropa yang paling banyak memainkan pemain U-23, dan itu bukanlah hal yang bisa diremehkan. Saya adalah kapten Arsenal pada usia 21 tahun bersama Arsene Wenger yang banyak menggunakan pemain muda. Kini sebagai pelatih, saya belajar bahwa itu benar-benar tidak mudah, jadi saya hanya bisa merasa senang dengan pencapaian mereka,” pungkasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.









