Cristian Chivu, Pelatih Kepala FC Internazionale Milano, merayakan kemenangan bersama Hakan Calhanoglu setelah pertandingan Semifinal Coppa Italia antara FC Internazionale dan Como di San Siro pada 21 April 2026 di Milan, Italia. (Foto: Marco Luzzani/Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya usai melihat timnya kembali melakukan comeback sensasional dari ketertinggalan 0-2 menjadi kemenangan 3-2 atas Como pada leg kedua semifinal Coppa Italia, Selasa (21/4) waktu setempat.
Kemenangan dramatis ini memastikan tiket ke partai final bagi I Nerazzurri. Menariknya, ini adalah kali kedua secara beruntun Inter Milan berhasil bangkit dari defisit dua gol melawan tim yang sama dalam kurun waktu 10 hari, setelah sebelumnya mereka juga menang 4-3 di ajang Serie A pada 12 April lalu.
Bagi Chivu, rentetan kemenangan dramatis ini menandakan kembalinya julukan ikonik masa lalu klub, yakni “Pazza Inter” atau Inter yang Gila—sebuah julukan yang perlahan mulai ditinggalkan di era Antonio Conte dan Simone Inzaghi yang lebih mengedepankan stabilitas permainan.
“Membalikkan ketertinggalan 2-0 melawan Como dua kali dalam 10 hari, hanya Pazza Inter yang bisa melakukan itu,” ujar Chivu kepada Sport Mediaset.
“Kami memiliki skuad yang telah tampil sangat baik sejak awal musim, jadi ketika mereka dipanggil (untuk bermain), mereka menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan. Para pemain ini sangat peduli pada kebaikan Inter sehingga mereka berjuang sekeras ini untuk membalikkan keadaan,” tambahnya.
Pujian untuk Pemain Pengganti dan Kondisi Dumfries
Chivu secara khusus memberikan kredit kepada para pemain pengganti seperti Andy Diouf, Petar Sucic, dan Francesco Pio Esposito yang dinilainya mampu membaca situasi pertandingan dengan sangat baik dan menunjukkan keberanian.
Dalam laga tersebut, Chivu membuat kejutan dengan tidak memainkan Denzel Dumfries sejak menit awal maupun sebagai pengganti pertama untuk Luis Henrique. Posisi tersebut justru diisi oleh Diouf. Chivu menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil murni karena kondisi fisik sang pemain.
“Denzel memiliki masalah kebugaran. Dia bilang dia bisa mengatasi menit-menit akhir, tetapi dia merasakan sakit pada tendonnya. Namun, melihat jalannya pertandingan, dia mengatakan bahwa dia siap untuk mencoba, dan saya senang melihat para pemain bersedia memberikan segalanya untuk klub,” jelas pelatih asal Rumania tersebut.
Menolak Dibandingkan dengan Jose Mourinho
Kemenangan ini menjaga asa Inter Milan untuk meraih gelar ganda (Double Winners) musim ini. Di pentas Serie A, mereka saat ini unggul 12 poin di puncak klasemen, dan kini telah memastikan tempat di Final Coppa Italia untuk menghadapi Lazio atau Atalanta pada 13 Mei mendatang.
Satu-satunya momen Inter Milan berhasil mengawinkan gelar Coppa Italia dan Serie A (bahkan meraih Treble) terjadi pada era Jose Mourinho di tahun 2010, di mana Chivu saat itu merupakan salah satu pemain pilar di lini pertahanan.
Namun, ketika ditanya mengenai perbandingannya dengan sosok berjuluk The Special One tersebut, Chivu memilih merendah.
“Itu hanya karena kalian di media menyukai berita utama (headline), tetapi saya hanyalah Cristian. Tanggung jawab saya satu-satunya adalah kepada para pemain ini. Saya hanya mencoba melakukan pekerjaan saya dengan cara terbaik bagi mereka yang percaya kepada saya, dan berharap dapat membawa pulang beberapa target kami,” pungkasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













