10 Tahun Usai Juara Premier League, Leicester City Kini Terdegradasi ke Kasta Ketiga Liga Inggris

Keajaiban mengangkat trofi juara Premier League di King Power Stadium pada Mei 2016 kini terasa seperti kenangan yang sangat jauh bagi Leicester City

Hanya berselang sepuluh tahun sejak momen bersejarah tersebut, The Foxes resmi terdegradasi ke League One (kasta ketiga sepak bola Inggris) pada Selasa (21/4) waktu setempat.

Kepastian pahit ini didapat setelah Leicester hanya mampu bermain imbang 2-2 saat menjamu Hull City di kandang sendiri. Hasil tersebut membuat tim asuhan Gary Rowett tertinggal tujuh poin dari zona aman dengan hanya menyisakan dua pertandingan musim ini.

Lebih tragisnya lagi, ini merupakan degradasi beruntun (back-to-back) bagi Leicester City. Setelah sempat promosi ke Premier League pada musim 2023-2024, mereka langsung terdegradasi kembali ke Championship di musim berikutnya (2024-2025), dan kini kembali merosot ke League One. Leicester menjadi tim kelima dalam sejarah yang mengalami degradasi beruntun ke kasta ketiga.

Pada laga penentu tersebut, Leicester sempat memiliki harapan untuk melakukan keajaiban. Sempat tertinggal lewat gol pembuka Liam Millar (Hull), The Foxes membalikkan keadaan melalui dua gol cepat Jordan James dan Luke Thomas. 

Namun, gol penyeimbang dari Oli McBurnie di pertengahan babak kedua menjadi pukulan telak yang mengunci nasib tuan rumah. Rentetan hasil buruk—hanya menang satu kali dalam 18 laga terakhir dan hukuman pengurangan enam poin akibat pelanggaran aturan belanja klub awal musim ini—membuat mereka tak tertolong.

Kemarahan Suporter

Suasana (toxic atmosphere) sangat terasa di King Power Stadium. Kekecewaan memuncak saat para penggemar menyoraki para pemain sebelum dan sesudah pertandingan. Yel-yel “Anda tidak pantas mengenakan jersey ini” menggema, dengan gelandang Harry Winks menjadi salah satu target utama cemoohan.

Kemarahan juga diarahkan kepada Chairman (Ketua) klub, Aiyawatt Srivaddhanaprabha. Chants “Keluar dari Klub Kami” terus diteriakkan pendukung sepanjang pertandingan hingga usai peluit panjang, disertai protes di luar stadion.

Merespons amarah tersebut, Aiyawatt Srivaddhanaprabha langsung merilis pernyataan resmi yang menyatakan bahwa dirinya bertanggung jawab penuh atas kemunduran klub.

“Degradasi ke League One sekarang sudah dipastikan. Sebagai Ketua, tanggung jawab itu ada di tangan saya. Tidak ada alasan,” tulis Srivaddhanaprabha di saluran media sosial resmi klub.

“Kita telah mengalami puncak tertinggi dan sekarang titik terendah, dan rasa sakit itu dirasakan oleh kita semua. Saya benar-benar minta maaf atas kekecewaan yang telah kami timbulkan… Fokus kami sekarang adalah pada apa yang akan terjadi selanjutnya. Kami akan mengambil keputusan yang diperlukan untuk membawa klub maju,” tegasnya.

Ancaman Krisis Finansial di Depan Mata

Manajer Gary Rowett turut menyadari rasa frustrasi luar biasa yang dialami oleh para penggemar.

“Jika Anda adalah seorang penggemar di dunia saat ini di mana menonton pertandingan bersama keluarga sangatlah mahal, Anda akan sangat frustrasi dan melampiaskan kemarahan Anda. 

Para penggemar menunjukkan gairah dan kekecewaan. Mereka mencintai klub sepak bola mereka dan mereka pantas mendapatkan yang lebih baik dari apa yang mereka lihat saat ini,” ujar Rowett.

“Klub ini memenangi Premier League belum lama ini. Itu adalah pencapaian luar biasa saat itu… Saya pikir kita bisa sama kecewanya dengan betapa buruknya momen ini,” tambahnya.

Degradasi ke kasta ketiga bukan hanya sebuah tamparan dari segi prestasi, tetapi juga membawa ancaman krisis finansial yang nyata akibat anjloknya pendapatan hak siar televisi.

Sebagai perbandingan, berdasarkan data Deloitte pada musim 2023-2024, rata-rata total pendapatan klub League One hanya berada di angka $12,2 juta (sekitar Rp 198 miliar). 

Angka tersebut hanyalah 25 persen dari rata-rata pendapatan klub Championship, dan sangat jauh tertinggal dari rata-rata pendapatan klub Premier League yang menyentuh angka $422 juta (sekitar Rp 6,8 triliun). 

Sepanjang 142 tahun sejarah klub, Leicester City tercatat baru satu kali bermain di kasta ketiga, yakni pada musim 2008-2009.