Jagat media sosial sempat dihebohkan dengan aksi “tendangan kungfu” pemain muda berbakat Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto Hengga, dalam laga Elite Pro Academy (EPA) U-20 melawan Dewa United. Namun, di balik video singkat yang viral tersebut, terungkap sebuah kronologi provokatif yang menunjukkan bahwa emosi Alberto sudah mendidih jauh sebelum insiden fatal itu terjadi.
Berdasarkan laporan akun pemantau bakat @smgfootball, gerak-gerik Alberto di pinggir lapangan ternyata menyimpan ketegangan tinggi. Penyerang berusia 17 tahun itu tidak langsung melancarkan tendangan kungfu kepada Rakha, pemain Dewa United yang akhirnya mengalami dislokasi bahu.
Serangan Pertama di Bangku Cadangan
Aksi tidak terpuji Alberto disinyalir dimulai dengan sebuah “terjangan” awal. Sebelum terlibat kontak fisik dengan Rakha, Alberto tertangkap kamera mendatangi bangku cadangan (bench) Dewa United. Di sana, ia melancarkan serangan pertama kepada Mohamad Ridwan (nomor punggung 158) yang sedang duduk tenang.
Belum puas dengan aksi pertamanya, Alberto yang tampak kehilangan kendali emosi kemudian melanjutkan pergerakannya hingga terjadilah insiden tendangan terbang ke arah bahu Rakha (nomor punggung 130).
Dipicu Rasisme yang Menyakitkan
Apa yang membuat “permata” Timnas Indonesia ini begitu meledak? COO Bhayangkara FC sekaligus Ketua BTN, Sumardji, mencoba menggali motif di balik aksi brutal tersebut. Berdasarkan pengakuan Alberto, ia menjadi sasaran serangan rasisme yang sangat personal.
“Ada teriakan dari bench yang menyerang fisik dan warna kulitnya. Di situlah Berto akhirnya naik darah dan melakukan tendangan itu,” ujar Sumardji. Alberto mengaku mendengar kata-kata hinaan rasis yang membuatnya merasa tidak dihargai sebagai manusia.
Selamat Tinggal Timnas Indonesia
Sayangnya, alasan rasisme tidak bisa membenarkan aksi kekerasan di atas lapangan hijau. Sumardji dengan tegas menyatakan bahwa Alberto telah resmi dicoret dari skuad Timnas Indonesia U-20 yang dipersiapkan untuk Piala AFF U-19 2026.
Kehilangan tempat di Timnas adalah harga mahal yang harus dibayar oleh Alberto. Pemain yang sebelumnya digadang-gadang sebagai pilar kunci di bawah asuhan Nova Arianto ini kini harus menepi dan menghadapi sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.
Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi sepak bola Indonesia: bahwa rasisme adalah musuh bersama, namun membalasnya dengan kekerasan fisik hanya akan menghancurkan karier yang baru saja dimulai.












