Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi. (Foto: Dok UGM).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Meski dikeluhkan masyarakat karena kenaikannya signifikan, pakar ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, mendukung kebijakan pemerintah terkait harga BBM nonsubsidi.
Sejak Sabtu (18/4), harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite naik bervariatif. Untuk kawasan DKI Jakarta, harga Pertamax Turbo (RON 98) naik dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter, atau meningkat Rp6.300 per liter.
Sedangkan harga Pertamina Dex naik dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter, atau naik Rp9.400 per liter. Demikian pula harga Dexlite naik dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter, atau meningkat Rp9.400 per liter.
“Saya kira kebijakan itu sangat tepat, karena dapat mengurangi beban APBN untuk membayar kompensasi akibat Pertamina harus menjual BBM di bawah harga keekonomian,” papar Fahmy di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Dia mengakui kenaikan harga dari ketiga jenis BBM nonsubsidi itu relatif tinggi. Namun, menurutnya, hal tersebut tidak akan berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa atau inflasi. Alasannya, konsumen ketiga jenis BBM nonsubsidi itu sangat terbatas, yakni hanya kelompok atas yang memiliki daya beli kuat. “Saya yakin tidak akan ngaruh ke inflasi dan daya beli,” imbuhnya.
Beda cerita, kata Fahmy, jika pemerintah juga menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green yang jumlah konsumennya cukup besar.
“Konsumen kedua BBM nonsubsidi itu relatif lebih besar ketimbang Pertamax Turbo, Pertamina Dex, maupun Dexlite. Kalau Pertamax dan Pertamax Green ikut naik, nah baru ancaman inflasi dan pelemahan daya beli semakin nyata,” tandasnya.
Selain itu, lanjut mantan anggota tim reformasi tata kelola migas yang dipimpin (almarhum) Faisal Basri itu, jika harga Pertamax dan Pertamax Green dinaikkan, sementara harga Pertalite tidak dinaikkan, akan mendorong migrasi besar-besaran dari Pertamax ke Pertalite. “Alhasil, bengkaklah anggaran subsidi BBM karena migrasi itu,” ujarnya.
Di sisi lain, dia mengkritik pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM subsidi hingga akhir 2026.
Jaminan itu, kata dia, memang memberikan kepastian bagi konsumen dalam jangka panjang sehingga dapat mencegah panic buying. Namun, penggunaan tolok ukur waktu (time frame) dinilai berisiko mengecewakan konsumen jika gagal dipenuhi, sehingga jaminan itu bisa menjadi ‘pemberian harapan palsu’ alias PHP.
“Pasalnya, siapa yang bisa memprediksi berapa lama perang di Timur Tengah? Tidak ada yang tahu kapan selesainya. Jaminan itu menjadi lebih efektif dan brilian jika pemerintah menggunakan tolok ukur harga minyak dunia ketimbang indikator waktu,” pungkasnya.
Bergantung Pasar Global
Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan penyesuaian harga BBM nonsubsidi dipengaruhi dinamika harga pasar global serta kondisi geopolitik. Hal serupa juga berlaku pada kenaikan harga LPG nonsubsidi.
“Penyesuaian harga LPG NPSO (Non-Subsidi) ini kurang lebih sama dengan BBM NPSO, dipengaruhi harga pasar dan kondisi geopolitik saat ini,” kata Roberth.
Sementara itu, harga BBM nonsubsidi lain, yakni Pertamax, masih dalam tahap evaluasi bersama pemerintah.
Berikut daftar harga BBM Pertamina, baik subsidi maupun nonsubsidi, untuk wilayah DKI Jakarta per 20 April 2026:
Pertalite: Rp10.000 per liter (tetap)
Solar Subsidi: Rp6.800 per liter (tetap)
Pertamax: Rp12.300 per liter (tetap)
Pertamax Turbo: Rp19.400 per liter (sebelumnya Rp13.100/liter)
Pertamax Green 95: Rp12.900 per liter (tetap)
Dexlite: Rp23.600 per liter (sebelumnya Rp14.200/liter)
Pertamina Dex: Rp23.900 per liter (sebelumnya Rp14.500/liter)
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











