Abimana hingga Morgan Ungkap Beratnya Syuting “Ghost in the Cell”, Adegan Laga 15 Menit Tanpa Cut

Mia Medium.jpeg

Jumat, 10 April 2026 – 12:46 WIB

Para pemain film Ghost in the Cell. (Dokumentasi: Tangkapan layar dari Instagram Joko Anwar)

Para pemain film Ghost in the Cell. (Dokumentasi: Tangkapan layar dari Instagram Joko Anwar)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Para pemeran film Ghost in the Cell membagikan pengalaman menantang saat menjalani proses syuting, khususnya untuk adegan laga panjang yang direkam tanpa jeda hingga 15 menit.

Aktor Abimana Aryasatya mengungkapkan adegan perkelahian di dalam penjara menjadi salah satu bagian tersulit dalam film tersebut. Ia menyebut, adegan itu tidak hanya menuntut kemampuan fisik, tetapi juga konsistensi emosi karena direkam dalam satu rangkaian panjang.

“cukup menantang karena kita harus mencampur banyak, enggak bisa dilihat dari adegan laganya saja, karena adegan itu keseluruhan tuh kita ambil cukup panjang,” ujar Abimana, Jakarta, Jumat (10/04/2026). 

Dalam film garapan Joko Anwar tersebut, Abimana berperan sebagai Anggoro, narapidana yang terlibat dalam konflik intens di dalam penjara fiktif yang dibangun khusus untuk kebutuhan produksi.

Sementara itu, Morgan Oey yang memerankan karakter Bimo menghadapi tantangan berbeda. Ia harus memadukan unsur komedi dalam adegan laga, sesuatu yang menurutnya jauh lebih sulit dibanding aksi biasa.

“Komedi laga itu sangat berbeda dengan adegan laga yang berdampak doang, karena komedi laga harus ada ekspresi yang komikal untuk menambah kesan komedinya gitu sih. Itu cukup sulit,” kata Morgan.

Aktor muda Endy Arfian juga menilai film ini memiliki pesan kuat bagi penonton, khususnya generasi muda. Ia menyebut “Ghost in the Cell” mampu membuka kesadaran tentang realitas sosial yang terjadi di masyarakat.

Film ini dijadwalkan tayang mulai 16 April 2026 di bioskop, dengan klasifikasi usia 17 tahun ke atas.

Film Terinspirasi dari Fenomena Sosial

Sutradara Joko Anwar mengungkapkan proyek ini telah dikembangkan sejak 2018 hingga 2025, terinspirasi dari berbagai fenomena sosial. Ia menggunakan latar penjara sebagai metafora untuk menggambarkan keterbatasan sistem yang membelenggu masyarakat.

Untuk mendukung visual yang kuat, tim produksi bahkan membangun set lembaga pemasyarakatan secara khusus dari nol.

“Kami membangun tempat penjara itu dari awal sampai jadi, jadi tempat itu fiktif,” kata Joko.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang