Ilustrasi. Tentara Indonesia yang ditempatkan sebagai pasukan perdamaian PBB di Lebanon selatan, mengamati sebuah kendaraan Humvee tentara Israel yang diparkir di sisi perbatasan Lebanon-Israel, 10 Desember 2007. (Foto: Getty images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Gerakan Kebangkitan Baru Nahdlatul Ulama (GKB-NU) melontarkan kecaman keras atas serangan artileri militer Israel yang menghantam pangkalan Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) kontingen Indonesia di distrik Marjayoun, Lebanon Selatan.
Insiden mematikan yang mengakibatkan satu prajurit TNI gugur dan sejumlah personel lainnya terluka ini dinilai sebagai pelanggaran berat terhadap nilai kemanusiaan.
Inisiator sekaligus Ketua Umum GKB-NU, Hery Haryanto Azumi, menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas penjaga perdamaian tidak dapat dibenarkan dengan dalih apa pun.
“Kami mengutuk keras serangan markas pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon oleh Israel. Ini adalah kejahatan kemanusiaan sekaligus menjadi ancaman serius di tengah upaya rekonsiliasi atas konflik yang semakin memanas di Timur Tengah,” ujar Hery dalam keterangannya kepada inilah.com di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Merespons tragedi tersebut, GKB-NU mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan insiden ini sebagai momentum guna lebih memfokuskan diplomasi luar negeri pada perjuangan mewujudkan kemerdekaan Palestina.
Hery menekankan pentingnya mendorong negara Palestina yang merdeka dengan batas wilayah yang konkret serta sistem pemerintahan yang berjalan efektif.
Lebih lanjut, Hery memaparkan visi geopolitik Indonesia sebagai middle power (kekuatan menengah). Bersama negara-negara Selatan lainnya seperti Brasil, India, dan Afrika Selatan, Indonesia dinilai memiliki peluang emas untuk menegosiasikan masa depan dunia dan memimpin pergerakan Global South.
“Presiden Prabowo dengan begitu banyak tantangan di dalam negeri dan luar negeri pasca bergabung ke dalam BRICS dan BoP, memiliki kesempatan untuk memperbesar pole Global South ini mengingat reputasi historis dalam Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok,” terang Hery.
Ia juga memberikan garis batas yang jelas mengenai arah pergerakan Global South. Hery menegaskan bahwa misi negara-negara Selatan bukanlah untuk menghapuskan eksistensi suatu negara seperti retorika Iran terhadap Israel, maupun meniru sikap Israel yang bersikukuh menolak berdirinya Negara Palestina.
Misi utama poros ini, menurut Hery, murni untuk mengembalikan keseimbangan dunia yang lebih setara, menegosiasikan perdamaian dan keadilan, serta membangun sistem dunia multipolar yang menjamin tatanan dunia baru yang lebih manusiawi.
Sebagai informasi, Kantor Berita Nasional Lebanon sebelumnya melaporkan bahwa tembakan artileri Israel menghantam markas yang digunakan oleh kontingen Indonesia di kota Adshit al-Qusayr. Serangan darat terhadap fasilitas UNIFIL ini memicu kekhawatiran global baru mengenai jaminan keselamatan pasukan internasional di tengah memburuknya ketegangan lintas batas di wilayah konflik tersebut.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










