Hebat Betul Bahlil, Saat Thailand Naikkan BBM 22 Persen dan Filipina Tembus Dua Kali Lipat, Indonesia Masih Aman

Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) terjadi di sejumlah negara Asia Tenggara di tengah tekanan energi global akibat konflik di Timur Tengah.

Di Thailand, pemerintah resmi menaikkan harga BBM mulai Kamis (26/3/2026). Kenaikan diumumkan pada malam sebelumnya dengan besaran mencapai 6 baht per liter atau sekitar Rp3.000. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan awal.

Dampaknya, harga bensin di Thailand meningkat antara 14 persen hingga 22 persen. Sementara itu, harga solar—yang menjadi penopang utama sektor transportasi, pertanian, dan industri—melonjak sekitar 18 persen.

Kebijakan ini ditempuh untuk menahan beban subsidi energi yang terus membengkak akibat kenaikan harga minyak dunia. Tekanan fiskal meningkat seiring eskalasi konflik yang memengaruhi pasokan energi global.

Kenaikan harga juga memicu respons langsung dari masyarakat. Antrean kendaraan terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar sejak malam sebelum kebijakan berlaku. Warga berupaya mengisi BBM lebih awal guna menghindari lonjakan harga.

Filipina Masuk Fase Krisis Energi

Situasi yang lebih berat terjadi di Filipina. Presiden Ferdinand Marcos Jr. pada Selasa (24/3/2026) menyatakan negaranya telah memasuki fase krisis energi.

Harga BBM di negara tersebut dilaporkan melonjak hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelum konflik pada Februari. Ketergantungan tinggi terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk Persia—mencapai sekitar 98 persen impor minyak mentah—membuat dampaknya terasa signifikan.

Kenaikan harga energi turut memicu lonjakan biaya transportasi dan bahan pokok, termasuk beras. Pemerintah Filipina telah mengambil sejumlah langkah, seperti pemberian subsidi bagi pengemudi transportasi umum, pengurangan jadwal feri, hingga penerapan empat hari kerja bagi aparatur sipil negara untuk menghemat konsumsi bahan bakar.

Malaysia Mulai Batasi Subsidi

Sementara itu, Malaysia mulai menyesuaikan kebijakan subsidi energi. Pemerintah berencana memangkas kuota BBM jenis RON95 dari 300 liter menjadi 200 liter per bulan mulai April.

Konsumsi di atas kuota tersebut akan dikenakan harga pasar. Selain itu, harga RON95 tanpa subsidi telah dinaikkan dua kali sejak 11 Maret dengan total kenaikan mencapai 45 persen. Pemerintah juga mempertimbangkan pembatasan pembelian solar di beberapa wilayah untuk mengurangi potensi kebocoran anggaran.

Indonesia Klaim Pasokan BBM Aman

Berbeda dengan kondisi tersebut, Indonesia menyatakan pasokan energi dalam negeri masih terjaga. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, memastikan ketersediaan BBM dan LPG tetap aman meski tekanan global meningkat.

“Sekalipun dalam kondisi yang memang hampir semua dunia kena, tetapi kita bersyukur kepada Allah, hari ini BBM di negara kita tercinta, baik bensin, solar, maupun LPG, terpenuhi dengan baik,” ujar Bahlil ketika melakukan sidak di Jawa Tengah, dipantau secara daring dari Kementerian ESDM Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan, cadangan minyak nasional saat ini berada di kisaran 21 hingga 28 hari, sesuai standar minimal. Menurutnya, angka tersebut tidak menunjukkan bahwa pasokan akan habis, karena distribusi dan produksi terus berjalan.

Pemerintah juga telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan dari Selat Hormuz dengan mencari sumber impor alternatif.

“Kita tahu bahwa 20 persen dari crude (minyak mentah) kita itu diambil dari Selat Hormuz. Sekarang, kami sudah ganti ke tempat lain dan pasokannya insyaallah sudah mulai membaik,” ujar Bahlil.