Ilustrasi – Armada pesawat Garuda Indonesia di Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMF). (Foto: GMF)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat,(Kang Hero), melontarkan kritik tajam terhadap manajemen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). Kritik ini menyusul laporan kerugian maskapai pelat merah tersebut yang terus membengkak, padahal telah menerima suntikan modal jumbo dari PT Danantara Asset Management.
Kang Hero menegaskan, jika kinerja Garuda tak kunjung membaik, perombakan atau perbaikan manajemen secara menyeluruh harus segera dilakukan.
“Saya berpesan kepada direksi dan komisaris, uruslah Garuda dengan baik. Dulu kami mempertahankan Garuda sebagai national flag carrier agar tetap beroperasi dengan harapan kinerjanya membaik,” tegas Hero kepada inilah.com di Jakarta, Kamis (19/3/2026).
“Kalau sampai hari ini masih belum menunjukkan perbaikan, berarti ada yang kurang tepat dilakukan oleh manajemen,” sambungnya.

Kunci Keselamatan Garuda
Menurut Hero, kunci utama untuk membalikkan keadaan GIAA agar kembali mencetak laba ada pada dua hal: ekspansi armada di rute potensial dan efisiensi ketat.
Optimalisasi Rute: Jumlah pesawat yang ada saat ini dinilai tidak mampu menutup tingginya biaya operasional jika tidak diimbangi dengan pengisian rute-rute yang market-nya menguntungkan.
Efisiensi Beban Utang: Garuda didesak untuk mengkaji ulang berbagai aspek yang membebani kas perusahaan, terutama beban pembayaran utang.
Rapor Merah GIAA di 2025
Kritik DPR ini berakar pada catatan keuangan GIAA sepanjang tahun buku 2025 yang menunjukkan kemunduran signifikan:
Kerugian Meroket: Rugi bersih mencapai US$322,4 juta, melonjak sekitar 4,5 kali lipat dibandingkan kerugian tahun sebelumnya (US$72,7 juta).
Pendapatan Turun: Pendapatan turun 5,85 persen secara tahunan menjadi US$3,21 miliar.
Beban Usaha Stagnan: Beban usaha Garuda dan Citilink hanya turun tipis 0,17 persen menjadi US$3,1 miliar.
Beban Keuangan Naik: Meningkat 9,56 persen menjadi US$525,7 juta.
Selisih Kurs: Mencatat kerugian selisih kurs sebesar US$1,2 juta, berbalik dari tahun sebelumnya yang sempat untung Rp18 juta.
Suntikan Danantara dan Dinamika Saham
Diketahui, GIAA telah menerima suntikan modal senilai Rp23,7 triliun (sekitar US$1,4 miliar) dari Danantara pada akhir 2025. Angka ini dipangkas dari rencana awal sebesar US$1,8 miliar, yang berimbas pada batalnya rencana ekspansi armada GIAA. Saat ini, 91,11 persen saham GIAA berada di bawah kendali pemerintah melalui Danantara.
Di lantai bursa, harga saham GIAA sempat melonjak 9,38 persen menjadi Rp70 per lembar pada perdagangan Selasa (17/3), meski nilai transaksinya relatif sepi di angka Rp2,78 miliar. Secara year-to-date (YTD), harga saham GIAA telah terkoreksi lebih dari 28 persen.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













