Nama Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan, menjadi sorotan publik setelah penjelasannya terkait 20 poin rencana perdamaian Gaza dari Board of Peace (BoP) menuai pro dan kontra di ruang publik.
Di tengah derasnya kritik dan hujatan di media sosial, muncul pertanyaan mendasar siapa sebenarnya Ulta Levenia?
Biodata Ulta Levenia
- Nama lengkap: Ulta Levenia Nababan
- Pendidikan: University of Leeds, Inggris Raya; Master Insurgensi dan Terorisme (M.A.)
- Pekerjaan: Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Republik Indonesia
Peneliti Konflik Global
Ulta bukan sosok baru dalam isu keamanan internasional. Ia dikenal sebagai peneliti yang fokus pada bidang kontra-terorisme, insurgensi, dan konflik global.
Dalam rekam jejak profesionalnya, Ulta tercatat melakukan penelitian langsung di sejumlah wilayah konflik berisiko tinggi seperti Afghanistan, Filipina Selatan, Aceh, hingga Papua.
Pengalaman lapangan itu memperkuat kapasitasnya dalam membaca dinamika konflik bersenjata dan keamanan global.
Ia juga aktif menulis dan mempublikasikan analisis di berbagai media nasional dan internasional, termasuk membahas jaringan terorisme, radikalisme, hingga dampak krisis global terhadap keamanan kawasan.
Latar Pendidikan Internasional
Secara akademik, Ulta memiliki latar belakang pendidikan yang kuat di bidang keamanan.
Ia meraih gelar Master (M.A.) dalam studi insurgensi dan terorisme dari University of Leeds, Inggris.
Selain itu, ia juga mengikuti program studi keamanan Indo-Pasifik di lembaga pertahanan Prancis, serta menyelesaikan pendidikan sarjana ilmu politik di Universitas Indonesia.
Ulta juga merupakan penerima sejumlah beasiswa prestisius, termasuk Chevening Scholarship dan Fulbright Scholarship, yang menjadi indikator pengakuan internasional atas kapasitas akademiknya.
Karier di Dunia Keamanan dan Pemerintahan
Dalam perjalanan kariernya, Ulta pernah berkiprah di berbagai lembaga strategis, mulai dari think tank hingga institusi negara.
Ia pernah menjadi peneliti di pusat studi kontra-terorisme dan radikalisme Polri, konsultan kontra-terorisme, hingga peneliti di sejumlah lembaga strategis nasional dan internasional.
Saat ini, ia menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama di lingkungan Kantor Staf Presiden.
Selain itu, Ulta juga aktif sebagai narasumber dalam berbagai forum internasional, seminar, dan diskusi terkait keamanan global dan ideologi.
Masuk Lingkaran Kebijakan Publik

Selain sebagai peneliti, Ulta juga memiliki pengalaman dalam dunia komunikasi politik dan kebijakan publik.
Ia sempat terlibat dalam Tim Kampanye Nasional pada Pemilu 2024, serta masuk dalam daftar “40 under 40” tokoh muda inspiratif.
Posisinya saat ini di KSP menempatkannya sebagai salah satu figur yang berperan dalam menjembatani isu strategis global dengan kebijakan pemerintah, termasuk dalam isu Palestina.
Kontroversi dan Respons Publik
Penjelasan Ulta terkait 20 poin BoP yang menyangkut masa depan Gaza memicu reaksi beragam.
Sebagian publik menilai penjelasan tersebut membuka perspektif baru terkait upaya diplomasi internasional untuk Palestina.
Namun, tidak sedikit pula yang mengkritik bahkan menghujat, terutama karena kecurigaan terhadap peran Amerika Serikat dalam inisiatif tersebut.
Di tengah polemik itu, Ulta menekankan pentingnya membaca dokumen secara utuh dan objektif, serta tidak terjebak pada disinformasi.
Figur Teknis di Tengah Isu Sensitif
Dengan latar belakang sebagai peneliti keamanan dan konflik global, Ulta Levenia berada pada posisi yang tidak mudah, menjelaskan isu teknis dan kompleks kepada publik yang sangat sensitif terhadap isu Palestina.
Kontroversi yang muncul mencerminkan betapa isu Gaza bukan hanya persoalan geopolitik, tetapi juga menyangkut emosi, solidaritas, dan persepsi publik yang kuat di Indonesia.
Terlepas dari pro dan kontra, sosok Ulta menunjukkan di balik narasi kebijakan luar negeri, terdapat aktor-aktor teknis dengan latar belakang akademik dan pengalaman lapangan yang panjang.












