IHSG Nyungsep, Investasi Urun Dana Melesat Layak Jadi Instrumen Investasi Alternatif

Iwan Medium.jpeg

Selasa, 17 Maret 2026 – 19:59 WIB

Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Foto: Antara/Hafidz Mubarak)

Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Foto: Antara/Hafidz Mubarak)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pekan lalu, pasar saham yang merupakan salah satu instrumen investasi terpopuler, kembali anjlok. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan mingguan terdalam di Asia Tenggara sepanjang periode 9-13 Maret 2026.

Di mana, IHSG ditutup di level 7.137,21 pada Jumat (13/3), atau anjlok 5,91 persen yang setara 448 poin dibandingkan penutupan pekan sebelumnya.

“Ini dampak kombinasi geopolitical contagion di Selat Hormuz, revisi outlook Fitch menjadi negatif, dan tekanan terhadap rupiah yang sempat menembus ke level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Semuanya akan menguji stabilitas makroekonomi,” papar Kusfiardi, analis ekonomi politik pasar saham di Jakarta, dikutip Selasa (17/3/2026).

Karenanya, diperlukan investasi alternatif yang terpercaya. Salah satu alternatifnya adalah melalui layanan urun dana (securities crowdfunding) yang saat ini terus berkembang.

“Pertumbuhan industri SCF selama 2023 sampai 2026, adalah eksponensial dan bukan linear. Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi, terutama kepada aset Sukuk,” ucap Patrick Gunadi, Ketua Umum Asosiasi Urun Dana Indonesia (Aludi) periode 2026-2029.

Dia bilang, saat ini, industri Securities Crowdfunding (SCF) di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa hanya dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Di mana, total penghimpunan dana melonjak signifikan dari Rp1,53 triliun pada Desember 2024, menjadi Rp2,04 triliun per Februari 2026.

Berdasarkan data dari Kemenko Perekonomian, sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) telah menjadi tulang punggung perekonomian di Indonesia. Kontribusinya lebih dari 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap hampIr 97 persen tenaga kerja. Saat ini, jumlah UMKM mencapai lebih dari 64 juta unit usaha.

“Kepercayaan masyarakat pada industri SCF perlu dijaga dan secara terus menerus diperbaiki, termasuk dengan melakukan kurasi yang ketat untuk penerbit dan menerapkan code of conduct,” tutup Patrick.

Pertumbuhan ini tercatat didorong oleh ekspansi jumlah penerbit (UMKM) yang meningkat tajam sebesar 33 persen, Dari 804 entitas menjadi 1.073 entitas, serta dominasi sektor syariah yang berkontribusi Rp1,14 triliun. Atau mencakup lebih dari 56 persen total pendanaan industri.

“Memang salah satu tujuan dari Aludi adalah untuk mendorong pertumbuhan UMKM dan usaha rintisan di Indonesia melalui penggunaan teknologi yang tentunya akan memberikan dampak sosial,” ucap Ivo Rustandi, Sekretaris Jenderal Aludi. 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang