(Ilustrasi: Inilah.com/Bank Mayapada)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Wajah investasi di Indonesia telah berubah drastis dalam lima tahun terakhir. Jika dulu masyarakat hanya mengenal emas dan deposito sebagai “pelabuhan” dana aman, kini kesadaran akan diversifikasi portofolio mulai merambah ke instrumen surat utang negara. Salah satu yang dikenal pada umumnya adalah Surat Berharga Negara (SBN) Ritel.
Bagi investor pemula maupun kawakan, SBN Ritel bukan sekadar tren. Ini adalah jawaban bagi Anda yang mencari keseimbangan antara imbal hasil (yield) yang menarik dengan risiko yang relatif terjaga—bahkan bisa dikatakan nol risiko gagal bayar karena dijamin langsung oleh undang-undang dan APBN negara.
Memahami Anatomi SBN Ritel
Secara sederhana, membeli SBN Ritel berarti Anda meminjamkan uang kepada pemerintah untuk membiayai pembangunan nasional. Sebagai imbalannya, pemerintah memberikan “tanda terima” berupa surat berharga dan membayar bunga (kupon) secara rutin setiap bulan hingga masa kontrak (tenor) berakhir.
Namun, sebelum terjun, nasabah perlu memahami dua jenis kupon SBN yang ditawarkan:
- Fixed Rate (Kupon Tetap): Biasanya melekat pada instrumen seperti Obligasi Negara Ritel (ORI) atau Sukuk Ritel (SR). Besaran bunganya tetap sejak awal hingga jatuh tempo. Tanpa terlekat pada tingkat suku bunga yang naik atau turun, Anda tetap menerima angka yang sama. Kelebihannya? Bisa diperjualbelikan di pasar sekunder sebelum jatuh tempo.
- Floating with Floor (Kupon Mengambang dengan Batas Bawah): Umumnya ada pada Savings Bond Ritel (SBR) atau Sukuk Tabungan (ST). Imbal hasilnya akan naik jika suku bunga acuan Bank Indonesia naik, namun tidak akan turun lebih rendah dari batas minimal (floor) yang ditetapkan di awal. Sayangnya, jenis ini biasanya tidak bisa diperjualbelikan di pasar sekunder (non-tradable).
Menghitung Yield dan Peluang Pasar Sekunder
Dalam investasi SBN, kita mengenal istilah yield atau imbal hasil nyata yang diterima investor. Berbeda dengan deposito, SBN jenis tradable (seperti ORI) memberikan fleksibilitas likuiditas. Jika Anda membutuhkan dana sebelum tenor berakhir, Anda bisa menjualnya di pasar sekunder. Jika harga pasar saat itu sedang tinggi, Anda berpotensi mendapatkan capital gain.
Sebagai ilustrasi sederhana: Anda menginvestasikan Rp100 juta pada SBN dengan kupon 6% per tahun. Artinya, Anda akan menerima pendapatan pasif kotor sebesar Rp500.000 setiap bulan yang langsung masuk ke rekening. Bandingkan dengan deposito yang pajaknya lebih tinggi (20%), sementara pajak SBN hanya 10%. Angka ini jelas memberikan efisiensi yang lebih baik bagi kantong Anda.
Diversifikasi Lewat Kanal Resmi
Bank Mayapada merupakan Sub Mitra Distribusi yang menawarkan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel secara online. Bank Mayapada sebagai salah satu institusi perbankan yang kokoh, hadir memfasilitasi nasabah yang ingin melakukan diversifikasi ke instrumen plat merah ini. Melalui akses yang mudah dan pendampingan dengan mitra yang profesional, nasabah tidak hanya sekadar menaruh uang, tapi juga teredukasi mengenai siklus pasar modal dan uang.
Dunia investasi memang penuh dinamika, namun dengan menempatkan sebagian dana pada SBN Ritel, Anda telah membangun “benteng” pertahanan finansial yang solid. Di tengah fluktuasi ekonomi, memiliki aset yang dijamin negara adalah langkah cerdas yang tak boleh dilewatkan.
Kunjungi www.bankmayapada.com atau hubungi myCALL 1500029 untuk informasi lebih lanjut, atau kunjungi kantor cabang Bank Mayapada terdekat.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













