Pakar pengelolaan air tambang, Muhammad Sonny Abfertiawan, menjelaskan cara perusahaan tambang nikel Harita mengelola limbah air tambang di Pulau Obi, Maluku Utara.
Menurut Sonny, perusahaan tersebut menerapkan teknologi Dry Stack Tailing, yaitu metode pemisahan air dan material padat dari lumpur limbah tambang menggunakan mesin bertekanan tinggi.
“Dry Stack Tailing tadi itu, lumpur yang mengandung padatan dipisah antara air dan padatannya. Jadi air dan padatannya dipisah. Lalu padatannya itu di-press lagi, ada mesinnya. Di-press sampai airnya keluar semua,” kata Sonny dalam perbincangan di Podcast YouTube Inilah.com Jurnalisik, dikutip Jumat (26/3/2026).
Ia menjelaskan, limbah padat yang telah dipisahkan kemudian ditempatkan di area pembuangan atau disposal area. Lokasi tersebut berupa cekungan di antara area disposal sehingga limbah tidak berbentuk kolam lumpur, melainkan timbunan padat.
Sebelum limbah padat ditimbun, bagian dasar area tersebut terlebih dahulu dilapisi material kedap air. Langkah ini dilakukan untuk mencegah air limbah maupun air hujan meresap ke tanah dan mencemari air tanah di sekitarnya.
“Harita itu memanfaatkan cekungan-cekungan antara disposal dengan disposal, kemudian mereka masukkan dry tailing-nya di situ. Bentuknya timbunan. Dasarnya juga diberi material yang kedap, jadi air tidak punya kesempatan masuk ke dalam air tanah,” ujarnya.
Selain itu, perusahaan juga memasang sistem perpipaan di bawah tumpukan dry tailing. Sistem ini berfungsi menangkap air yang meresap ke dalam timbunan limbah saat terjadi hujan.
Air yang tertangkap kemudian dialirkan keluar melalui pipa untuk diproses lebih lanjut. Baik air dari sistem pipa maupun air limpasan permukaan (run-off) tidak langsung dibuang ke lingkungan, tetapi terlebih dahulu diolah.
Harita juga memiliki sediment pond atau kolam sedimen berukuran besar, salah satunya bernama TG2. Kolam ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampungan, tetapi juga sebagai fasilitas pengolahan air agar kualitasnya memenuhi baku mutu lingkungan sebelum dilepas atau dimanfaatkan kembali.
“Harita itu termasuk yang menurut saya harus kita berikan apresiasi karena dia konsisten melakukan continuous improvement. Salah satunya Dry Stack Tailing, tadi yang saya bilang ada sediment pond yang namanya TG2,” ucap Sonny.
Sonny menilai penerapan teknologi tersebut menunjukkan komitmen perusahaan dalam meminimalkan dampak lingkungan dari aktivitas pertambangan.
Ia mengakui bahwa teknologi Dry Stack Tailing membutuhkan biaya operasional yang tinggi, sehingga belum tentu semua perusahaan tambang mampu menerapkannya.
“Harita termasuk yang the best di Indonesia dan layak diberikan apresiasi. Walaupun pasti perdebatannya soal cost yang sangat mahal sekali. Belum tentu perusahaan lain bisa meniru itu karena komitmennya tadi. Cost-nya sangat mahal, effort-nya juga lebih banyak,” ujarnya.
Menurut Sonny, praktik pengelolaan limbah seperti yang dilakukan Harita seharusnya dapat menjadi contoh bagi perusahaan tambang lainnya. Hal ini penting untuk mendukung penerapan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 5 Tahun 2021 mengenai pengelolaan lingkungan secara komprehensif.
“Nah komitmen itu yang sebetulnya harus dimiliki semua tambang. Sadar bahwa air yang dikelola volumenya besar sekali karena negara kita negara tropis. Banyak perusahaan tidak sadar atau mungkin tidak mau tahu bahwa volume air kita besar, akhirnya mereka bangun sediment pond itu kecil-kecil,” tuturnya.













