Purbaya Siapkan Skenario jika Harga Minyak Menggila Imbas Eskalasi di Timur Tengah

Clara Medium.jpeg

Jumat, 6 Maret 2026 – 20:22 WIB

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (24/2/2026). (Foto: ANTARA/Imamatul Silfia).

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (24/2/2026). (Foto: ANTARA/Imamatul Silfia).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Eskalasi militer Amerika Serikat-Israel ke jantung Iran mulai bikin pusing pengelola dompet negara di Lapangan Banteng. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa blak-blakan soal potensi goyangnya APBN 2026 akibat gejolak harga minyak mentah dunia yang kian liar.

Purbaya mengungkapkan, Kemenkeu sudah memutar otak menyiapkan berbagai skenario. Pasalnya, jika harga minyak dunia anteng di angka rata-rata USD92 per barel sepanjang tahun, defisit anggaran Indonesia terancam melebar hingga melewati batas aman.

“Kita sudah exercise kalau harga minyak setahun rata-rata USD92 maka defisitnya 3,6 persen PDB, itu kalau kita enggak ngapa-ngapain,” ujar Purbaya dalam media briefing di Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Meski begitu, Purbaya mencoba menenangkan pasar. Ia menilai jika kenaikan hanya menyentuh angka USD72 per barel alias masih di atas asumsi APBN yang cuma USD60, kondisi fiskal kita masih dianggap dalam kendali. 

“Let’s say yang worst scenario jeleknya minyaknya sampai USD72 (per barel) masih aman, masih bisa dikendalikan,” katanya meyakinkan.

Sambil bernostalgia, Purbaya mengingatkan bahwa Indonesia bukan “anak kemarin sore” soal urusan krisis energi. RI tercatat pernah bertahan saat harga minyak dunia menggila hingga USD150 per barel.

“Kita dulu pernah melewati keadaan dimana harganya sampe USD150 per barel. (Ekonominya) agak melambat tapi engga jatuh jadi kita punya pengalaman,” jelas Purbaya.

Kekhawatiran ini memang bukan isapan jempol. Garda Revolusi Iran (IRGC) resmi menarik tuas rem pada jalur vital perdagangan minyak dunia, Selat Hormuz. Aksi ini merupakan balasan telak atas agresi Amerika dan Israel yang menewaskan Pimpinan Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

“Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran,” ungkap Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari. 
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang