Siasat Iran Tutup Selat Hormuz Picu Krisis Migas Global: Ganggu Upaya Mandiri Energi RI

Reyhaanah Medium.jpeg

Minggu, 1 Maret 2026 – 21:57 WIB

Peta Selat Hormuz. (Foto: Inilah.com)

Peta Selat Hormuz. (Foto: Inilah.com)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ekonom Universitas Andalas Prof. Dr. Syafruddin Karimi mengatakan, penutupan Selat Hormuz imbas serangan AS-Israel ke Iran, berpotensi memicu lonjakan tajam harga minyak dunia, karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi global.

Menurut Syafruddin, pasar energi sangat sensitif terhadap gangguan di Selat Hormuz karena jalur ini dilalui sebagian besar perdagangan minyak laut dunia.

“Penutupan Selat Hormuz langsung menaikkan premi risiko energi karena pasar membaca gangguan jalur ini sebagai ancaman pada pasokan dunia,” kata Syafruddin kepada Inilah.com, Minggu (1/3/2026).

Ia menjelaskan, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan arus minyak melalui Selat Hormuz pada 2024 hingga kuartal I 2025 setara lebih dari seperempat perdagangan minyak laut dunia dan sekitar seperlima konsumsi minyak global.

“Ketika perusahaan tanker, pedagang, dan operator pelayaran menahan pengiriman, pasokan tidak hilang seketika, tetapi tertahan di logistik. Efeknya tetap sama, biaya energi naik, ongkos produksi dan distribusi naik, lalu inflasi biaya menguat di banyak negara pengimpor,” tuturnya.

Dalam jangka pendek, Syafruddin menyebut harga minyak berpotensi melonjak tajam karena pasar merespons potensi gangguan pasokan.

“Penutupan Hormuz bisa mendorong lonjakan harga yang tajam karena harga bergerak mengikuti probabilitas gangguan, bukan menunggu kelangkaan fisik,” ujar dia.

Ia menambahkan, harga minyak bahkan berpeluang kembali mendekati kisaran 90 hingga 100 dollar AS per barel apabila gangguan berlangsung signifikan.

“Dalam jangka menengah, besarnya kenaikan ditentukan oleh durasi gangguan, kemampuan pengalihan arus pasokan, serta respons produsen utama. selama biaya asuransi dan risiko keselamatan tetap tinggi, volatilitas bertahan meski sebagian suplai bisa dialihkan,” jelas Syafruddin.

Diketahui, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran menutup jalur vital perdagangan minyak dunia yang terletak di Selatan Iran, yaitu Selat Hormuz.

Penutupan ini sebagai buntut serangan Amerika Serikat (AS) dan Zionis Israel yang menewaskan Pimpinan Tinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

“Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran,” ungkap Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari, dikutip Minggu (1/3/2026).

Sementara itu, pejabat misi Angkatan laut Uni Eropa Apsides mengungkap informasi penutupan Selat Hormuz telah disebarkan. Melalui transmisi radio VHF dari Garda Revolusi Iran, kapal-kapal dilarang melewati kawasan tersebut.