Truk impor China sudah meresahkan industri otomotif lokal, kini ditambah lagi masalah impor pikap dari India. (Foto: Tata Motors)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Industri otomotif nasional kembali mendapat pukulan telak. Belum usai “luka” akibat invasi truk impor asal China yang menggerus pangsa pasar, kini pabrikan dan rantai pasok lokal harus menelan pil pahit dari kebijakan dalam negeri sendiri.
PT Agrinas Pangan Nusantara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tengah mengimpor secara utuh (CBU) 105.000 unit kendaraan komersial dari India. Pengadaan bernilai fantastis mencapai Rp24,6 triliun ini ditujukan untuk mendukung operasional program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Rincian ‘Kue’ Impor yang Jatuh ke India
Dua pabrikan asal India dipastikan menjadi penerima durian runtuh dari proyek raksasa pemerintah ini sepanjang tahun:
Mahindra & Mahindra: Menyediakan 35.000 unit pikap 4×4 Scorpio.
Tata Motors: Menyuplai 35.000 unit pikap 4×4 Yodha dan 35.000 unit truk roda enam Ultra T.7.
Langkah importasi ini memicu ironi besar. Pasalnya, Indonesia memiliki sederet pabrikan yang sangat mumpuni memproduksi kendaraan komersial sejenis, seperti Daihatsu, Suzuki, Mitsubishi, Isuzu, Wuling, hingga DFSK. Saat ini, utilisasi pabrik mereka tengah tertekan hebat akibat melemahnya daya beli masyarakat.
Jeritan Rantai Pasok Lokal dan Kemenperin
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tak menutupi kekecewaannya. Dirjen Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menyuarakan protes keras mewakili Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif (PIKKO).
PIKKO, yang beranggotakan 110 IKM (Tier 2 dan 3), sejatinya sangat siap mendukung produksi ribuan kendaraan tersebut. Namun, keputusan impor CBU ini dinilai mematikan asa mereka di tengah utilisasi produksi yang saat ini hanya mentok di angka 60-70 persen.
“Dampak impor kendaraan utuh tidak hanya dirasakan pabrikan, tetapi juga mengancam sekitar 6.000 tenaga kerja di sepanjang rantai pasok industri komponen otomotif,” tegas Reni.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang, turut menyentil kebijakan ini. Ia mengingatkan bahwa Kemenperin sedang berupaya keras mencegah badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor otomotif. Pengadaan via impor dikhawatirkan akan merusak upaya stabilisasi tersebut.
Trauma Truk China Belum Sembuh
Luka industri niaga lokal sejatinya masih menganga. Sebelumnya, pabrikan raksasa yang telah berinvestasi triliunan rupiah seperti Mitsubishi Fuso dan Hino menjerit akibat serbuan truk impor asal China yang dinilai masuk tanpa persaingan yang adil secara regulasi.
Direktur Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI), Harianto Sariyan, mengungkap fakta miris mengenai pabriknya di Purwakarta yang berkapasitas 75.000 unit per tahun.
“Tahun 2025 adalah tahun paling suram buat kami, sisa (kapasitas terpakai) sekitar 25 persen. Karena tahun lalu banyak truk China masuk,” keluh Harianto.













