War SEAblings vs K-Netz: Bermula dari Kamera Fansite di Konser DAY6 Malaysia. (Foto: Flux)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Perseteruan memanas antara netizen Asia Tenggara (SEAblings) dan Korea Selatan (K-Netz) memantik sorotan tajam dari berbagai pengamat. Di balik saling serang komentar di media sosial, terdapat fakta ekonomi yang membuat sikap rasisme oknum warga Korea Selatan terasa sangat ironis.
Jurnalis senior A. Ainur Rohman melalui akun X pribadinya menyoroti ketimpangan hubungan ini. Ia menyebut situasi ini sangat menyedihkan mengingat posisi vital Indonesia sebagai salah satu penyumbang terbesar bagi industri hiburan Korea.
“Ironis banget. Korea Selatan mengekspor budayanya secara masif ke Indonesia. Pada 2025 bahkan jadi top 3 konsumen terbesar K-pop di dunia,” tulis Ainur Rohman, menyoroti data konsumsi budaya pop Korea yang masif di tanah air.
Sumbang Devisa, Dibalas Hina
Namun, besarnya kontribusi ekonomi fans Indonesia ternyata tidak berbanding lurus dengan respek yang diterima dari masyarakat negara asalnya. Ainur menyayangkan narasi rasisme yang muncul dalam konflik SEAblings vs K-Netz, di mana penghinaan fisik sering kali dilontarkan.
“Namun sebagian masyarakatnya masih melihat konsumen Indonesia tak lebih dari monyet,” tegas Ainur, merujuk pada ujaran kebencian yang menyamakan fisik warga Asia Tenggara dengan hewan atau memandang rendah status sosial mereka.
Pernyataan ini mempertegas paradoks dalam industri Hallyu. Di satu sisi, pasar Asia Tenggara—khususnya Indonesia—menjadi lumbung keuntungan bagi agensi dan artis Korea. Namun di sisi lain, ketika terjadi gesekan seperti kasus aturan konser di Malaysia, penggemar dari wilayah ini justru menjadi sasaran diskriminasi rasial yang merendahkan martabat.














