Pelatih Kepala Senegal, Pape Thiaw, sebelum pertandingan Grup D Piala Afrika antara Benin dan Senegal di Grand Stade de Tanger pada 30 Desember 2025 di Tangier, Maroko. (Foto: Visionhaus/Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pelatih Timnas Senegal, Pape Thiaw, akhirnya buka suara terkait insiden kontroversial aksi walk-out yang dilakukan skuadnya pada laga final Piala Afrika (AFCON) melawan Maroko, Minggu lalu.
Dalam pernyataan resminya melalui Instagram, Kamis (22/1), Thiaw membela keputusan dramatis tersebut. Ia menegaskan bahwa tindakan meninggalkan lapangan bukanlah bentuk tidak hormat pada olahraga, melainkan sebuah “reaksi emosional” untuk melindungi para pemainnya dari apa yang ia sebut sebagai “bias” dan “ketidakadilan”.
Alasan di Balik Chaos 15 Menit
Insiden bermula ketika gol Senegal dianulir dan tak lama kemudian Maroko justru mendapat hadiah penalti di masa injury time. Senegal kemudian meninggalkan lapangan selama kurang lebih 15 menit, menciptakan kekacauan di stadion.
“Bukan niat saya untuk melanggar prinsip-prinsip permainan yang sangat saya cintai ini,” tulis Thiaw.
“Saya hanya mencoba melindungi pemain saya dari ketidakadilan. Apa yang mungkin dianggap sebagian orang sebagai pelanggaran aturan tidak lain adalah reaksi emosional terhadap bias situasi tersebut,” jelas pelatih yang membawa Senegal juara tersebut.
Peran Sadio Mane dan Ancaman Hukum
Thiaw menjelaskan bahwa setelah perundingan di ruang ganti—di mana kapten Sadio Mane memainkan peran kunci untuk membujuk rekan-rekannya kembali—tim akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pertandingan demi trofi.
Keputusan itu terbukti tepat. Kiper Edouard Mendy menepis penalti Brahim Diaz, dan Pape Gueye mencetak gol kemenangan di babak tambahan.
Namun, aksi tersebut menuai kecaman keras. Presiden FIFA Gianni Infantino menyebut kekacauan itu “tidak dapat diterima”. Federasi Sepak Bola Maroko juga menyatakan akan menempuh jalur hukum ke FIFA dan CAF karena insiden itu dianggap merusak ritme pertandingan dan memengaruhi performa pemain mereka.
Permintaan Maaf Thiaw
Meski bersikeras bahwa tindakannya beralasan, Thiaw tetap melayangkan permintaan maaf kepada pihak-pihak yang merasa terganggu dengan pemandangan di laga puncak tersebut.
“Saya meminta maaf jika saya telah menyinggung siapa pun, tetapi para pecinta sepak bola akan mengerti bahwa emosi adalah bagian tak terpisahkan dari olahraga ini,” ujarnya.
Ia juga menutup pernyataannya dengan nada yang lebih damai, memuji penyelenggaraan turnamen di Maroko meski berakhir dramatis. “Kami mengalami turnamen yang luar biasa dengan organisasi yang megah, yang sayangnya berakhir dengan cara yang dramatis,” tutup Thiaw.











