Direktur Utara PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri. (Foto: Dokumentasi Pertamina)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pelan tapi pasti, pemerintahan Prabowo Subianto mulai mengurangi ketergantungan impor sektor energi. Salah satunya adalah LPG yang importasinya mengalami naik 8 persen per tahun, dalam 5 tahun terakhir (2020-2024).
Kini mulai dijalankan hilirisasi batu bara ‘disulap’ menjadi Dimethyl Ether (DME), sebagai energi alternatif pengganti LPG. Pada Jumat (9/1/2026), PT Pertamina (Persero) bersama Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID), meneken kerja sama percepatan hilirisasi batu bara menjadi produk energi alternatif pengganti LPG.
Direktur Utama Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri menyatakan, kerja sama ini merupakan tonggak sejarah bagi Indoneia menuju kedaulatan energi sejati.
“Sebagai tulang punggung energi nasional, kami berkomitmen mengoptimalkan infrastruktur distribusi Pertamina untuk mendukung hilirisasi ini melalui kerja sama dengan MIND ID. Ini adalah langkah nyata dalam mengurangi ketergantungan pada impor LPG dan memastikan energi yang lebih terjangkau tersedia bagi rakyat, sejalan dengan target swasembada energi pemerintah,” ujar Simon dalam keterangan resmi, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).
Sementara itu, Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin menegaskan, kerja sama ini merupakan bagian dari upaya memperkuat struktur industri nasional, melalui pengembangan rantai nilai mineral, batu bara, dan energi di dalam negeri.
“Melalui kerja sama dengan Pertamina, MIND ID berkomitmen mendorong hilirisasi yang memberikan nilai tambah ekonomi, mengurangi ketergantungan impor, meningkatkan daya saing, membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang,” kata Maroef.
Naik 8 Persen per Tahun
Sebelumnya, Founder & Advisor ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto menyebut adanya tren kenaikan konsumsi LPG di Indonesia, sepanjang 2020 hingga 2024, sebesar 10,98 persen. Naik dari 8,02 juta ton pada 2020, menjadi 8,90 juta ton pada 2024.
Sementara itu, kapasitas produksi di dalam negeri hanya naik 2,40 persen di periode yang sama. Yakni, dari 1,92 juta ton pada 2020, menjadi 1,96 juta ton pada tahun 2024. “Kesenjangan antara pertumbuhan konsumsi dan produksi ini, memperbesar ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG,” ungkapnya.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), rata-rata volume impor LPG selama lima tahun terakhir, mencapai 6,67 juta ton per tahun. Tren peningkatannya sekitar 8,02 persen per tahun.
“Ketergantungan pada impor LPG yang terus meningkat telah memberi tekanan terhadap fiskal, terutama melalui alokasi subsidi energi dalam APBN,” imbuhnya.
Berdasarkan data, total belanja subsidi, mengalami kenaikan dari Rp242,1 triliun pada 2021, menjadi Rp. 307,9 triliun dalam APBN 2025. Peningkatan ini didorong lonjakan subsidi energi. Naik dari Rp140,4 triliun, menjadi Rp203,4 triliun di periode yang sama.
Khusus subsidi LPG 3 kilogram (kg) yang sering disebut elpji melon, memiliki porsi terbesar, yaitu, sekitar 42-45 persen dari total subsidi energi. Alokasi subsidi untuk LPG 3 kg tercatat meningkat, dari Rp67,6 triliun pada 2021, menjadi Rp87 triliun pada 2025.
Tahun ini, Kementerian ESDM memproyeksikan konsumsi LPG nasional akan mencapai 10 juta metrik ton (MT) pada 2026, sementara produksi domestik baru mencapai 1,3-1,4 juta MT.
Chief Technology Officer Danantara Indonesia, Sigit P. Santosa, menyampaikan, kerja sama antara Pertamina dan MIND ID mencerminkan pendekatan terintegrasi dalam pembangunan sistem energi nasional. Sebagai negara besar Indonesia sangat membutuhkan diversifikasi energi yang mampu menopang pembangunan.
“Kolaborasi dan sinergi antar-BUMN strategis dapat memperkuat fondasi energi nasional. Hilirisasi berbasis teknologi menjadi instrumen penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya domestik sekaligus membangun sistem energi yang lebih tangguh, efisien, dan berorientasi jangka panjang,” ujar Sigit.
Inisiatif ini menjadi wujud nyata peran aktif kolaborasi BUMN Energi dan Pertambangan dalam menjalankan mandat yang diberikan pemerintah guna mendukung agenda hilirisasi dan industrialisasi melalui pemanfaatan teknologi gasifikasi batu bara.
Hilirisasi ini dilakukan melalui teknologi proses gasifikasi, batu bara akan diubah menjadi Synthetic Natural Gas (SNG), selanjutnya diproses pemurnian dan didehidrasi menjadi Dimethyl Ether (DME), sebagai energi alternatif pengganti LPG.











