Kabar duka bagi para pecinta sejarah musik dunia. Paramount Global secara resmi menutup permanen seluruh saluran musik MTV —termasuk MTV ‘80s, ‘90s, hingga MTV Live— di wilayah Inggris, Irlandia, dan Australia pada awal 2026. Langkah ini menjadi bagian dari efisiensi gila-gilaan perusahaan senilai US$500 juta.
Matinya siaran musik linear ini menandai berakhirnya sebuah era di mana MTV pernah menjadi ‘kiblat’ budaya populer. Namun, di tengah kepunahan itu, muncul sebuah gerakan perlawanan digital bernama ‘MTV Rewind‘. Sebuah situs arsip independen yang hadir untuk mengobati kerinduan penggemar akan konten musik murni, jauh dari gempuran reality show yang kini mendominasi MTV asli.
Membangun ‘Museum Digital’ dalam 48 Jam
Mengutip laporan Billboard, Kamis (8/1/2026), sosok di balik gerakan ini menggunakan identitas anonim FlexasaurusRex La Creme. Melalui akun X miliknya, ia mengeklaim membangun situs MTV Rewind hanya dalam waktu 48 jam.
Hasilnya? Sebuah perpustakaan digital berisi lebih dari 33.000 video musik klasik yang bisa dinikmati tanpa iklan, tanpa algoritma, dan sepenuhnya gratis.
“MTV adalah institusi budaya yang mengubah musik, mode, dan budaya anak muda. Lalu mereka berhenti menayangkan video musik dan berubah menjadi televisi realitas,” tulis FlexasaurusRex dalam unggahan yang viral tersebut.
Nostalgia ‘Video Killed the Radio Star’
Saat pertama kali membuka halaman utama MTV Rewind, pengunjung akan langsung disambut dengan rekaman perdana siaran MTV pada 1 Agustus 1981. Tembang legendaris Video Killed the Radio Star dari The Buggles terputar otomatis, membawa audiens kembali ke masa jaya Pat Benatar, Rod Stewart, hingga The Cars.
Tak hanya video klip, situs ini juga menyimpan harta karun berupa:
- 6.000 klip 120 Minutes: Program legendaris yang melambungkan Radiohead dan R.E.M.
- 122 Penampilan MTV Unplugged: Dokumentasi akustik ikonik dari musisi dunia.
- Kanal Tematik: Tersedia kategori Yo! MTV Raps untuk pecinta hip-hop dan Headbangers Ball bagi para metalheads.
- Iklan Jadul: Sisipan iklan klasik seperti promosi Atari 2600 hingga Grey Poupon yang menambah kental suasana nostalgia.
Ironi YouTube sebagai Penyelamat
Uniknya, MTV Rewind tetap mempertahankan format televisi konvensional. Penonton tidak bisa memilih urutan lagu —layaknya menonton TV kabel zaman dulu— meski fitur percepat (fast forward) tetap disediakan.
Proyek non-komersial ini secara teknis bersumber dari basis data IMVDb dan menggunakan konten yang di-host di YouTube. Ada ironi besar di sini: YouTube, yang dahulu dianggap sebagai pembunuh saluran musik 24 jam milik MTV, kini justru menjadi pilar utama yang melestarikan sejarah video musik dunia melalui proyek independen ini.
Hingga berita ini ditulis, Paramount Global selaku pemilik merek MTV belum memberikan tanggapan resmi terkait keberadaan ‘museum gerilya’ tersebut.
Bagi banyak orang, MTV Rewind bukan sekadar situs, melainkan monumen pengingat bahwa musik seharusnya tetap menjadi jantung dari MTV.













