Bupati Aceh Tamiang Minta 42 Ribu Huntap dan Pasokan Pangan 6 Bulan ke Prabowo

Pascabencana Sumatera

Reza Medium.jpeg

Kamis, 1 Januari 2026 – 22:30 WIB

Pekerja membangun hunian sementara (huntara) untuk korban bencana banjir bandang di Karang Baru, Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (28/12/2025). (Foto: Antara/Irwansyah Putra/foc).

Pekerja membangun hunian sementara (huntara) untuk korban bencana banjir bandang di Karang Baru, Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (28/12/2025). (Foto: Antara/Irwansyah Putra/foc).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi meminta pemerintah pusat segera membangun puluhan ribu hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak banjir dan longsor. Permintaan itu disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.

Ia menyebut Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah dengan dampak terparah. Ribuan rumah dilaporkan rusak berat hingga hilang tersapu bencana.

“Dari data yang kami dapatkan dari para kepala desa, jadi rumah yang hilang sebanyak 37.888 unit dan rumah yang rusak berat sebanyak 4.839 unit,” ujar Armia dalam rapat koordinasi saat Presiden meninjau pembangunan hunian sementara (huntara) Danantara di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026).

Berdasarkan data tersebut, Armia menilai kebutuhan hunian tetap bersifat mendesak dan tak bisa ditunda lebih lama.

“Sehingga kami mohon izin bapak presiden, kami membutuhkan rumah huntap atau hunian tetap sebanyak 42.727 unit,” imbuhnya.

Armia menjelaskan, pembangunan huntara memang sudah mulai berjalan secara bertahap, termasuk yang dibangun melalui Danantara. Namun, hunian sementara dinilai tak cukup menjawab kebutuhan jangka panjang warga terdampak.

Tak hanya soal tempat tinggal, Armia juga menyoroti ancaman krisis logistik. Ia meminta pemerintah pusat membantu pasokan pangan untuk enam bulan ke depan.

“Kami mempunyai jumlah penduduk 313.245 jiwa. Kami sudah menghitung juga dengan Bappanas, kebutuhan akan beras, telur, minyak goreng, dan gula selama enam bulan ke depan, pak presiden,” jelasnya.

Menurut Armia, pemulihan ekonomi Aceh Tamiang belum berjalan normal sehingga kemampuan daerah memenuhi kebutuhan pangan masih sangat terbatas.

“Jadi kami nanti akan membuat surat resmi nanti kepada menteri terkait untuk bisa kami dipenuhi untuk enam bulan ke depan karena yang kami lihat, kondisi perekonomian di kami ini masih sangat terasa,” ujarnya.