Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ahmad Luthfi saat podcast ‘Jurnalisik’ yang diinisiasi Inilah.com, di Jakarta. (Foto: Tangkapan Layar).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ahmad Luthfi menyatakan, selama kepemimpinannya atau mulai triwulan III-2025, angka kemiskinan menurun dari 9,58 persen, menjadi 9,48 persen. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Jateng menembus di 5,37 persen, atau di atas capaian pertumbuhan ekonomi nasional.
Tak berhenti di situ, Pempov Jateng berhasil mendatangkan investasi. Langkah penting agar Pemprov Jateng tak hanya mengandalkan APBD dari PAD saja.
“Jadi begini, dalam membangun sebuah provinsi, itu tidak bisa kita andalkan dari APBD maupun PAD. Jadi APBD, PAD hanya 11,9 sampai dengan 15 persen, yang 8,5 persen adalah investasi dari luar, dalam, regional, boleh,” ungkap Gubernur Luthfi dalam Podcast Inilah.com ‘Jurnalisik’ di Jakarta, dikutip Jumat (26/12/2025).
Ke depan, Gubernur Luthfi menegaskan, Jawa Tengah harus menjadi ikon pertumbuhan investasi baru untuk skala nasional. Untuk itu, Pemprov Jateng hingga level kabupaten dan kota punya tugas sama. Yakni, menjadi manajer marketing untuk menarik investor membangun bisnisnya di Jateng.
“Salah satu syarat investasi di tempat kita, adalah jaminan keamanan, ketertiban, dan penegakan hukum yang jelas. Itu penting. Contoh, misalnya di Jawa Tengah saja, tidak ada premanisme. Di Jawa Tengah, tidak ada pungli karena saya tanggung jawab. Saya mantan kapolda kok,” bebernya.
Selain itu, Gubernur Luthfi menjamin perizinan investasi dipermudah, seperti di beberapa kawasan industri yang sudah beroperasi, yakni Kendal dan Wijayakusuma.
“Kalau dia sudah masuk kawasan industri, maka one kit system sudah, perizinannya gampang. Termasuk PMA (Penanaman Modal Asing) yang perizinannya di Jakarta dikawal dari wilayah,” sambungnya.
Dia juga menjelaskan terkait tenaga kerja yang tersedia juga bersifat kompetitif. Artinya dapat diberdayagunakan untuk sektor padat karya.
“Jadi padat karya ini adalah perusahaan yang karyawannya banyak untuk mereduksi angka pengangguran. Dengan cara apa? Kita lewat vokasi kemudian buat politeknik, BLK, kita didik masyarakat BLK yang nantinya ditempatkan di perusahaan sehingga terkoneksi,” tegasnya.
Gubernur Luthfi mengungkapkan, investasi di Jawa Tengah hingga triwulan III-2025 mencapai Rp66,8 triliun. Saat ini, sudah terwujud adanya investasi dari China senilai Rp55 triliun dan Malaysia senilai Rp6,9 triliun.
Mantan Kapolda Jateng itu, mengakui, pembangunan di Jawa Tengah masih belum merata. Misalnya di kawasan sepanjang jalur pantai utara (Pantura) dan pantai selatan (Pansela). Dikatakan, daerah yang berada di Pantura menjadi jalan nasional dan proyek vital nasional yang mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Sehingga ke depan ini harus kita geser untuk menjadi tumbuh ekonomi baru di wilayah Selatan sehingga mereka berkembang, itu satu. Kemudian yang kedua untuk menumbuhkan ekonomi baru, para bupati, wali kota tidak bisa berdiri sendiri ya harus kita ciptakan aglomerasi,” jelasnya.
Aglomerasi yang dimaksud adalah penggabungan 7 kabupaten dan kota menjadi satu. Bila masih belum mampu menumbuhkan ekonomi di wilayah, bisa dilebarkan lagi atau ekspansi ke luar kota.
“Saya bisa ekspansi keluar, skemanya B to B (business to business), misalnya dengan Gubernur Jawa Timur dengan Maluku Utara dengan Riau, untuk mencari kawasan ekonomi baru. Jadi ini suatu upaya-upaya untuk PAD, APBD kita tidak tergantung itu, tetapi kita harus menumbuhkan ekosistem fiskal baru di wilayah kita,” pungkasnya.














