Serap 1,5 Juta Pekerja, Menteri Fadli Sebut Industri Tempe Bagian dari Budaya

Iwan Medium.jpeg

Minggu, 21 Desember 2025 – 21:03 WIB

Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam Festival Budaya Tempe di Jakarta, Minggu (21/12/2025). (Foto: ANTARA/Sri Dewi Larasati).

Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam Festival Budaya Tempe di Jakarta, Minggu (21/12/2025). (Foto: ANTARA/Sri Dewi Larasati).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut tempe merupakan bagian dari tradisi dan budaya masyarakat Indonesia yang perlu terus dilestarikan.

“Tempenya sebagai kuliner, sebagai pangan yang disukai mayoritas rakyat Indonesia. Namun, di belakang itu juga ada satu tradisi, pengetahuan, terkait fermentasinya,” kata Menteri Fadli di ajang Festival Budaya Tempe di Jakarta, Minggu (21/12/2025).

Selain itu, dia menyampaikan bahwa kegiatan produksi dan usaha tempe melibatkan banyak komunitas dan tenaga kerja.

Menurut catatan Kementerian Kebudayaan, Menteri Fadli mengatakan, ada sekitar 170 ribu komunitas dan sekitar 1,5 juta orang yang terlibat dalam kegiatan produksi dan usaha tempe.

Dia mengatakan bahwa pembuatan produk pangan lokal, seperti tempe tidak bisa dipisahkan dari ekspresi budaya.

“Karena, dalam budaya itu, termasuk objek pemajuan kebudayaan itu, termasuk juga pangan lokal, ya. Karena pangan lokal ini ada ekspresi budaya di dalamnya, tidak bisa dipisahkan dari cultural expression atau ekspresi budaya,” kata Menteri Fadli .

Kementerian Kebudayaan menyelenggarakan Festival Budaya Tempe untuk mengawal upaya pelestarian budaya pembuatan tempe.

“Mudah-mudahan budaya tempe, yang sudah kita ajukan sejak awal tahun lalu, nanti tahun depan, di akhir 2026, bisa mendapat penetapan sebagai bagian dari warisan budaya tak benda dunia UNESCO,” kata Menteri Fadli. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, impor kedelai Indonesia pada 2024 mencapai 2,67 juta ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Data ini menjadi tantangan sekaligus peluang dalam pengembangan tempe ke depan, terutama dalam konteks ketahanan pangan dan keberlanjutan.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah Tjahjani Dwirini Retnoastuti, menekankan, apabila Budaya Tempe ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia, maka pemanfaatannya perlu diperkuat secara lintas sektor.

Endah menegaskan, tidak hanya dalam aspek kebudayaan, tetapi juga pertanian dan perdagangan, sehingga tempe dapat berkontribusi nyata dalam penguatan ekonomi budaya.

“Inovasi pun menjadi kunci, termasuk pemanfaatan berbagai jenis kacang-kacangan lokal sebagai bahan baku alternatif tempe,” ujarnya.

Pakar teknologi pangan sekaligus mantan Duta Besar Indonesia untuk UNESCO, Aman Wirakartakusumah berpandangan senada. Peluang budaya tempe untuk diinskripsi sebagai warisan budaya, cukup terbuka. Mengingat tempe merupakan pangan sehat dengan protein nabati berkualitas tinggi yang relevan dengan tren global.

Ia juga menegaskan, tempe tidak harus selalu berbasis kedelai, karena secara prinsip fermentasi tempe dapat dilakukan dengan berbagai jenis kacang-kacangan.

Dari sisi kesehatan dan gizi, Guru Besar IPB, Made Astawan menyampaikan, citra tempe sebagai makanan sehat terus menguat. Kandungan protein dan peptida bioaktif pada tempe memiliki manfaat fisiologis yang mendukung kesehatan, sehingga saat ini tempe telah diakui sebagai salah satu superfood dunia.

“Hal ini memperkuat posisi Budaya Tempe tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai kontribusi Indonesia terhadap gaya hidup sehat global,” sebutnya.

Pendiri Rumah Tempe Indonesia, Bela Putra Perdana, menyebut pengajuan Budaya Tempe ke UNESCO, merupakan tonggak sejarah bagi Indonesia.

Menurutnya, pengakuan internasional akan mendorong peningkatan standardisasi, kualitas, serta daya saing global produk tempe nasional.

“Tempe dipandang sebagai identitas, ilmu pengetahuan, dan kebanggaan bangsa yang perlu dijaga bersama,” tegasnya.

Festival Budaya Tempe dengan tema “Budaya Tempe: Warisan Hidup dari Indonesia untuk Dunia” mencakup eksibisi budaya tempe, pameran produk berbahan tempe, serta penyampaian dukungan terhadap upaya pengajuan penetapan budaya tempe sebagai warisan budaya tak benda Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Selain itu, Fun Run 3K dan Fun Run 10K diadakan dalam rangkaian acara aktivasi Festival Budaya Tempe untuk menghubungkan tempe dan upaya pelestarian warisan budaya dengan gaya hidup sehat.