BMKG memastikan fenomena La Nina masih akan bertahan di wilayah Indonesia hingga awal tahun depan. (Foto: Inilah.com)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Indonesia dipastikan harus bersiap menghadapi bulan-bulan yang lebih basah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa fenomena iklim global La Nina akan bertahan dan terus memengaruhi cuaca di wilayah Tanah Air hingga awal tahun depan. Dampaknya sangat jelas: sejumlah besar wilayah diproyeksikan akan mengalami lonjakan curah hujan yang signifikan.
BMKG mencatat bahwa indeks ENSO (El Niño–Southern Oscillation) pada Dasarian III November berada di angka -0,80, yang masuk dalam kategori La Nina Lemah. Meskipun lemah, kondisi pendinginan suhu permukaan laut di Pasifik tengah-timur ini memiliki daya dorong kuat untuk meningkatkan suplai uap air dan curah hujan di Indonesia.
Kombinasi faktor iklim ini, menurut BMKG, dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi (lebih dari 150mm per dasarian), khususnya di kawasan Indonesia bagian tengah dan timur.
Warning Keras dari BMKG
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan tanpa perlu panik berlebihan. Fokus utama adalah mitigasi di tingkat komunitas dan rumah tangga.
“Kami mengajak masyarakat untuk tetap waspada namun tidak perlu panik. Pastikan saluran air berfungsi baik, jaga kebersihan lingkungan, dan pantau pembaruan cuaca melalui InfoBMKG sebelum beraktivitas,” ujar Faisal, menekankan peran aktif masyarakat dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
Selain La Nina yang berpotensi bertahan hingga awal tahun 2026, BMKG mencatat adanya faktor pendorong lain yang tak kalah penting: Indian Ocean Dipole (IOD).
Pada akhir November, IOD tercatat berada pada fase negatif dengan indeks -0,36. Meskipun fase IOD negatif ini diprediksi akan kembali netral setelah November, efeknya sudah terasa: terjadi dorongan pasokan uap air yang lebih banyak dari Samudra Hindia menuju Indonesia bagian barat. Dampak dari kombinasi kedua fenomena ini adalah peningkatan curah hujan di atas normal pada sejumlah wilayah.
Peta Wilayah Basah: Dari Aceh hingga Papua
1. Dampak Dominan La Nina (Tengah dan Timur):
Fenomena La Nina akan sangat memengaruhi kawasan tengah dan timur. Daerah-daerah yang diperkirakan mengalami penambahan curah hujan akibat La Nina meliputi:
- Nusa Tenggara Barat dan Timur
- Sebagian Kalimantan Tengah dan Timur
- Sebagian Sulawesi Selatan
- Kawasan tertentu di Maluku
- Papua Tengah dan sebagian kecil Papua Selatan
2. Dampak Tambahan IOD Negatif (Barat):
Sementara itu, dorongan dari IOD Negatif memengaruhi wilayah Indonesia bagian barat, di antaranya:
- Sebagian kecil Aceh
- Area tertentu di Kalimantan Barat
- Kepulauan Bangka Belitung
- Bagian selatan Banten
- Wilayah luas di Jawa Barat dan Jawa Tengah
- Sebagian kecil Jawa Timur
- Hampir seluruh wilayah Bali
Dari total 699 zona musim (ZOM), BMKG melaporkan bahwa sebanyak 75,3 persen wilayah Indonesia telah resmi memasuki musim hujan. Sisanya masih berada dalam musim kemarau atau zona transisi.
Meskipun La Nina yang terjadi saat ini berkategori lemah dan diprediksi tidak akan menambah curah hujan secara drastis pada puncak musim hujan, masyarakat tetap diimbau untuk mewaspadai potensi hujan lebat, banjir, dan tanah longsor. Seluruh pihak diminta menunjukkan empati dan kesiapsiagaan dalam menghadapi tantangan iklim hingga awal 2026.














