Tak Ingin Terjadi Pergantian Kekuasaan di 2026, Menkeu Purbaya Ngotot Jalankan Siasat Ini

Clara Medium.jpeg

Senin, 1 Desember 2025 – 23:44 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Hotel The Westin Jakarta, Kamis (20/11/2025). (Foto: Inilah.com/Clara Anna)

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Hotel The Westin Jakarta, Kamis (20/11/2025). (Foto: Inilah.com/Clara Anna)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Bukti Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa serius ingin memperbaiki perekonomian nasional, karena fokus ingin menumbuhkan uang primer atau M0.

Selama ini, peredaran uang primer sangat terbatas, berdampak kepada rendahnya daya beli yang memicu perekonomian morat-marit.

Menkeu Purbaya mengatakan, pilihan menggenjot peredaran uang primer, bukan tanpa alasan. Namun didasari analisa kebijakan ekonomi yang ditempuh pemerintah sebelumnya, justru menekan ekonomi masyarakat. Hal itu tercermin dari tertekannya peredaran uang primer.

Karena duit seret memicu aksi demonstrasi besar-besaran pada Agustus hingga September 2025. Bahkan sempat menciptakan kerusuhan dan korban jiwa.

“Saya enggak seberapa tahu, kenapa melambat (peredaran uang primer). Tetapi, saya lihat orang-orang demo besar-besaran, dan kita lihat apakah demo itu sebentar hilang, atau tidak,” ucap Menkeu Purbaya dalam Pembukaan Rapimnas Kadin 2025 di Jakarta, Senin (1/12/2025).

Menurut Menkeu Purbaya, jika masalah ekonomi itu tak segera terselesaikan, dikhawatirkan muncul aksi demo besar-besaran secara berkepanjangan. Kondisi ini, berpotensi menggulingkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 2026.

“Kita analisa, kemungkinan besar enggak akan hilang kalau ekonominya enggak diperbaiki. Mungkin kita masuk ke sesi awal tahun depan, kita mungkin mengalami pergantian kekuasaan yang costnya besar sekali buat masyarakat kita,” tegas Menkeu Purbaya.

Untuk itu, Menkeu Purbaya ingin menumbuhkan peredaran uang primer. Wajar jika dirinya menggelontorkan dana menganggur di Bank Indonesia (BI) yang sudah mencapai Rp276 triliun ke sistem keuangan domestik, yakni melalui perbankan.

“Melalui kebijakan itu, peredaran uang primer saat ini, telah tumbuh hingga kisaran 13 persen, dan masyarakat tak lagi banyak melakukan demonstrasi,” imbuhnya.

Topik
Komentar