Legislator Klaim Rekayasa Teknologi Bisa Genjot Produksi Garam dan Terbebas Jerat Impor

Reza Medium.jpeg

Sabtu, 22 November 2025 – 02:01 WIB

Tambak garam di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Inilah.com)

Tambak garam di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Inilah.com)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Produksi garam nasional jangan lagi dibiarkan hanya bergantung pada kondisi cuaca, perlu adanya penguatan dari sisi teknologi. Rekayasa teknologo diyakini bisa menjadi kunci agar Indonesia mampu memenuhi standar garam industri dan keluar dari ketergantungan impor yang masih sangat besar.

Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR, Lamhot Sinaga menyoroti ironi panjangnya garis pantai Indonesia yang belum mampu menekan kebutuhan impor garam dari Australia dan Amerika Serikat untuk sektor petrokimia.

“Kita memang mengalami tantangan untuk memproduksi garam industri, terutama cuaca yang tidak bisa diatur. Tapi dengan teknologi sekarang seharusnya bisa melakukan sebuah rekayasa produksi,” ujar Lamhot saat meninjau Cilegon, Banten, Jumat (21/11/2025).

Ia memaparkan persoalan utama ada pada selisih biaya produksi. Negara seperti Australia memanfaatkan tambang garam (rock salt) yang kerap menjadi produk sampingan, sehingga harga garam industrinya lebih murah. Berbeda dengan Indonesia yang masih mengandalkan pengeringan air laut dan sangat bergantung pada iklim.

Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan enggan menanamkan modal di sektor garam industri karena dinilai kurang menjanjikan secara ekonomi.

Meski begitu, Lamhot menegaskan transformasi teknologi wajib dilakukan agar industri dalam negeri tak terus didepak oleh pasokan impor.

“Seharusnya tidak masalah untuk memproduksi garam industri. Ini yang mau kita dorong, agar tidak mempengaruhi daya saing industri petrokimia kita,” tegasnya.

Topik
Komentar