Dunia Musik Berduka: Bassist The Stone Roses Gary ‘Mani’ Mounfield Meninggal di Usia 63 Tahun

Ikhsan Medium.jpeg

Jumat, 21 November 2025 – 15:32 WIB

Gary 'Mani' Mounfield saat tampil di panggung Isle of Wight Festival di Newport, Inggris, pada 2013. (Foto: Associated Press/Jim Ross)

Gary ‘Mani’ Mounfield saat tampil di panggung Isle of Wight Festival di Newport, Inggris, pada 2013. (Foto: Associated Press/Jim Ross)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Panggung musik global kembali kehilangan salah satu pilar fundamentalnya. Gary ‘Mani’ Mounfield, bassist yang dikenal sebagai detak jantung bagi dua band legendaris Inggris, The Stone Roses dan Primal Scream, dikabarkan meninggal di usia 63 tahun pada Kamis (20/11/2025).

Kabar duka ini pertama kali tersiar melalui unggahan di media sosial Facebook oleh saudaranya, Greg Mounfield.

“DENGAN HATI YANG SANGAT BERDUKA, SAYA HARUS MENGUMUMKAN KEPERGIAN SAUDARA SAYA, GARY MANI MOUNFIELD. BERISTIRAHATLAH DALAM DAMAI,” tulis Greg, dikutip Jumat (21/11/2025).

Kabar ini sontak menimbulkan gelombang kesedihan yang tak terhindarkan di kalangan komunitas musik, khususnya di Inggris yang menjunjung tinggi warisan era ‘Madchester’.

Sebagai informasi, Madchester adalah sebuah gerakan musik dan budaya yang muncul di Manchester, Inggris, pada akhir 1980-an, yang menggabungkan indie rock dengan acid house dan musik dansa. Skena ini dikenal karena memadukan indie rock dengan elemen psikedelik dan acid house, menciptakan genre musik yang dikenal sebagai indie dance atau baggy. Tokoh-tokoh pentingnya termasuk band-band seperti The Stone Roses, Happy Mondays, dan Inspiral Carpet.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab spesifik wafatnya musisi kelahiran 16 November 1962 itu. Namun, kepergiannya yang mendadak telah menyisakan lubang besar dalam lanskap musikal kontemporer.

Pahlawan yang tak Tergantikan

Penghormatan mengalir deras dari berbagai penjuru, membuktikan betapa vitalnya sosok Mani dalam industri. Sejumlah nama besar menyampaikan belasungkawa mendalam. Mulai dari vokalis The Stone Roses, Ian Brown; frontman The Charlatans, Tim Burgess; penyanyi Rowetta; hingga ikon rock Liam Gallagher.

Pentolan Oasis itu bahkan tanpa ragu menyebut Mani sebagai ‘pahlawannya’ –sebuah pengakuan tulus dari sesama legenda. 

“SAYA SANGAT TERKEJUT DAN BENAR-BENAR HANCUR SAAT MENDENGAR BERITA TENTANG MANI. PAHLAWAN SAYA, ISTIRAHAT DALAM DAMAI, ADIKKU/KAWANKU. LG,” tulisnya di akun X @liamgallagher.

Memang, banyak pengamat dan musisi sepakat bahwa Mani bukan sekadar pengisi instrumen; ia adalah arsitek ritme. Khususnya di era kegemilangan The Stone Roses, Mani dipandang sebagai figur sentral yang menggerakkan revolusi musik Madchester –perpaduan unik antara indie rock, dance, dan rave culture yang mendefinisikan sebuah generasi.

Gaya permainan bass Mani digambarkan sebagai ‘writhing, relentless‘ –berputar-putar namun tanpa henti–dan kerap disebut sebagai elemen rahasia yang membuat komposisi The Stone Roses begitu berpengaruh dan menular. Alunan bass-nya yang groovy dan kuat adalah identitas musikal yang tak tergantikan.

post-cover
Gary ‘Mani’ Mounfield (1962-2025). (Foto: The Barn)

Jejak Karier Sang Legenda

Mani diketahui meninggalkan dua putra kembarnya yang lahir pada tahun 2013, menyusul kepergian istrinya pada November 2023 setelah berjuang melawan kanker usus.

Kontribusinya terhadap musik The Stone Roses sangat signifikan. Mani adalah bagian dari formasi klasik bersama Ian Brown, John Squire, dan Alan ‘Reni’ Wren, yang menjadi ujung tombak kancah indie Inggris pada akhir 1980-an dan awal 1990-an.

Debut album The Stone Roses (1989) yang sangat dihormati, menampilkan lagu-lagu hits seperti I Wanna Be Adored dan I Am The Resurrection, sukses besar dan kemudian diakui sebagai salah satu album Inggris terhebat.

Album kedua The Stone Roses bertajuk Second Coming (1994) juga mencapai kesuksesan di tangga lagu Inggris.

Setelah The Stone Roses bubar pada 1996, Mani bergabung dengan Primal Scream dan memberikan sentuhan bass khasnya di album Vanishing Point (1997). Ia bertahan dengan Primal Scream selama 15 tahun dan merekam lima album sebelum akhirnya kembali untuk reuni The Stone Roses pada tahun 2011.

The Stone Roses sempat merilis dua single baru pada tahun 2016 dan mengadakan tur reuni yang sukses, termasuk konser terakhir mereka di Hampden Park, Glasgow, pada 2017, sebelum kembali bubar.

Pada konser terakhir itu, Ian Brown meninggalkan pesan yang berkesan. “Jangan sedih karena ini berakhir, berbahagialah karena ini pernah terjadi,” dikutip dari BBC.

Kepergian Gary ‘Mani’ Mounfield menjadi pengingat pahit bahwa musik telah kehilangan salah satu penjaga ritmenya. Warisan alunan bass-nya akan terus bergema dan menginspirasi generasi musisi baru untuk selamanya.

Topik
Komentar