Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui wartawan usai konferensi pers APBN KiTa Edisi November 2025 di Jakarta, Kamis (21/11/2025). (Foto: Antara/Bayu Saputra).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bakal mencegat produk impor asal China yang mendominasi 80 persen pasar di Indonesia. Pernyataan ini muncul setelah pedagang thrifting atau pakaian bekas mengeluhkan bisnis mereka merugikan pelaku UMKM lokal.
“Nanti kita cegat di pelabuhan, nanti kita periksa lebih teliti lagi. Kita akan investigasi lebih dalam dari kasus-kasus yang menyelundup, pastikan ketahuan nanti siapa yang impornya,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Kementerian Keuangan, Kamis (20/11/2025).
Dia menegaskan, birokrasi di bawah kepemimpinannya tidak akan memberi kompromi pada produk ilegal yang mematikan perekonomian. Purbaya menambahkan bahwa oknum yang menyelundupkan barang ilegal tak akan bisa lepas.
“Kalau dulu bisa lepas, ke depan tidak bisa lagi. Jadi memang kalau ilegal, kita beresin,” tegasnya.
Sebelumnya, kebijakan pemerintah memberantas impor pakaian bekas ilegal menuai protes dari pelaku usaha thrifting. Seorang perwakilan pedagang dari Pasar Senen, Jakarta, Rifai Silalahi, menyampaikan keluhannya langsung ke Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR, Rabu (19/11/2025).
Dalam rapat tersebut, Rifai menegaskan pedagang thrifting merupakan bagian dari ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Ia keberatan dengan stigma yang menyebut bisnisnya merugikan pelaku UMKM lokal.
“Jadi selama ini usaha thrifting diidentikkan mengganggu UMKM di Indonesia. Jadi kami perlu garis bawahi bahwa thrifting ini bagian dari UMKM. Kami itu termasuk pelaku UMKM,” ujar Rifai di Kompleks Parlemen, Jakarta.
Menurut Rifai, pasar yang dituju oleh produk thrifting berbeda dengan produk industri fesyen lokal. Produk thrifting memiliki pangsa pasar sendiri yang diminati karena faktor harga dan kualitas.
“Kalau dibilang thrifting ini mengganggu UMKM, pasarnya beda, Pak. Produk thrifting itu pangsa pasarnya beda, pakaian baru atau industri lokal itu beda. Jadi kenapa digandrungi? Karena thrifting selain harganya murah, kualitasnya juga bagus,” jelasnya.
Rifai justru menuding pakaian impor baru dari China sebagai biang kerok yang merusak pasar UMKM lokal. Ia mengklaim produk impor China telah mendominasi 80 persen pasar di Indonesia.
“Jadi bukan thrifting yang merusak UMKM itu. Itu 80 persen China, 20 persen dari beberapa negara. Kami harapkan, untuk thrifting yang dijadikan alasan membunuh UMKM, kami sangat keberatan,” kata dia.














