Ilustrasi Perbandingan biaya ke Bandung naik Whoosh dengan transportasi lain (Foto: Sekretariat Negara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Analis ekonomi dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR) Gede Sandra menyebut adanya potensi tambahan penerimaan negara dari sektor miss invoicing. Nilainya cukup jumbo, sekitar Rp200 triliun.
Dia menyarankan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa untuk lebih fokus membongkar praktik miss invoicing yang merugikan negara Rp1.000 triliun per tahun.
“Jika 20 persen saja uang negara bisa dikejar atau diselamatkan, lumayan. Sekitar Rp200 triliun bisa masuk APBN. Kemarin, Menkeu Purbaya guyur 5 bank Himbara Rp200 triliun untuk gerakkan sektor riil. Saya kira, ini opsi yang menarik. Selamatkan uang negara dari praktik miss invoicing,” kata Gede, Jakarta, Senin (17/11/2025).
Jika ada pemasukan dana Rp200 triliun, menurut Gede, akan sangat membantu keuangan negara. Bisa digunakan untuk banyak keperluan. Misalnya, melunasi utang Kereta Whoosh yang kabarnya akan berlanjut sampai Surabaya dan Banyuwangi.
“Bisa untuk bayar utang Whoosh yang rutenya akan dikembangkan hingga ujung timur Jawa Timur. Bisa itu,” imbuhnya.
Selain itu, lanjut Gede, tambahan dana Rp200 triliun dari praktik miss invoicing itu ke APBN, bakal mendongkrak angka tax ratio Indonesia yang hanya di kisaran 9-10 persen.
“Kalau ada tambahan Rp200 triliun, maka tax ratio bisa tembus menjadi 12 atau 13 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto). Atau bisa digunakan untuk membiayai kuliah gratis (S-1) yang sudah saya hitung, butuhnya Rp150 triliun,” kata Gede.
Dijelaskan Gede, data Next Indonesia menemukan adanya praktik miss invoicing sebesar Rp1.000 triliun per tahun, sepanjang era Presiden Jokowi yakni 2013-2024.
Disebut miss invoicing karena menyangkut selisih atau perbedaan invoice antara Indonesia sebagai eksportir komoditas, dengan negara tujuan ekspor. Nilainya ya itu tadi, sekitar Rp1.000 triliun/tahun.
Praktik miss invoicing ini, lanjut Gede, terdiri dari 2 modus yakni under invoicing atau menurunkan angka yang bisa berarti harga atau volume. Dan, over invoicing yang bermakna sebaliknya.
“Kalau nilai ekspor diturunin, maka pajak ekspor akan rendah. Dan, beban pajak dari perusahaan tambangnya ikut rendah. Seolah-olah profitnya rendah, PPh badan dan PNBP ikutan rendah,” tandasnya.
Utang Proyek Kereta Whoosh
Asal tahu saja, biaya pembangunan Kereta Whoosh mencapai US$7,27 miliar, atau setara Rp120 triliun (kurs Rp16.500/US$). Di mana, 75 persen dari total biaya itu ditalangi utang Bank Pembangunan China (China Development Bank/CDB) dengan bunga 2 persen per tahun.
Atau setara Rp90 triliun. Angka itu sudah termasuk pembengkakan biaya alias cost overrun US$1,2 miliar.
Selanjutnya, utang Rp90 triliun itu harus ditanggung PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang 60 persen sahamnya dikempit konsorsium BUMN atau PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Atau setara Rp54 triliun utang CDB harus ditanggung PSBI, sisanya yang Rp36 triliun ditanggung konsorsium China.
DI PSBI, ada 4 perusahaan pelat merah yakni PT Kereta Api Indonesia (Persero/KAI), PT Jasa Marga (Persero/JSMR) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero/WIKA) Tbk dan PTPN VIII. Komposisi sahamnya KAI sebesar 58,53 persen, WSKT 33,36 persen, JSMR 7,02 persen, dan PTPN VIII sebesar 1,03 persen.
Utang pembangunan Kereta Whoosh dilakukan dengan skema bunga tetap (fixed) selama 40 tahun pertama. Bunga utang Kereta Whoosh lebih tinggi ketimbang proposal Jepang yang menawarkan bunga 0,1 persen per tahun. Khusus untuk cost overrun yang US$1,2 miliar bunganya lebih tinggi yakni 3,4 persen.
Lebih dari separuh biaya untuk menutup cost overrun berasal dari tambahan utang CDB. Sisanya berasal dari patungan modal BUMN Indonesia dan pihak China yang menggarap proyek ini.
Cost overrun itu ditanggung oleh kedua belah pihak, di mana 60 persen ditanggung oleh konsorsium Indonesia dan 40 persen ditanggung oleh konsorsium China. Artinya, jika pemerintah berhasil bongkar praktik miss invoicing, atau selamatkan duit yang Rp200 triliun itu, tak perlu pusing bayar utang Kereta Whoosh. Bahkan cukup untuk melanjutkan rute Kereta Whoosh hingga ke Banyuwangi.














