UNRWA: Gaza Masih Terjebak Krisis Parah Meski Ada Gencatan Senjata

Ikhsan Medium.jpeg

Rabu, 24 Desember 2025 – 01:30 WIB

Potret kehancuran wilayah Jalur Gaza, Palestina, akibat serbuan militer Israel yang berlangsung sejak Oktober 2023. (Foto: Anadolu Agency)

Potret kehancuran wilayah Jalur Gaza, Palestina, akibat serbuan militer Israel yang berlangsung sejak Oktober 2023. (Foto: Anadolu Agency)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Harapan warga Palestina untuk menghirup udara damai nampaknya masih menjadi fatamorgana. Meski kesepakatan gencatan senjata telah berjalan selama lebih dari dua bulan, kenyataan di lapangan justru berbicara sebaliknya. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memberikan peringatan keras: Gaza masih tercekik krisis kemanusiaan yang sangat parah.

Dalam pernyataan resminya melalui platform X pada Selasa (23/12/2025), UNRWA menegaskan bahwa penderitaan warga sipil di kantong wilayah tersebut belum mereda. 

“Kondisi tetap parah dan kebutuhan kemanusiaan sangat besar. Keluarga-keluarga Palestina terus menghadapi kekurangan berat dan kehancuran yang meluas,” tulis badan dunia tersebut.

Kelaparan yang ‘Diciptakan’ Manusia

Data terbaru dari Integrated Food Security Phase Classification (IPC) menyajikan angka yang mengerikan. Sedikitnya 1,6 juta jiwa di Gaza kini berada dalam cengkeraman kerawanan pangan akut. Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini menyebut kondisi ini sebagai ‘krisis kelaparan yang diciptakan oleh manusia’.

Krisis ini diperparah oleh macetnya distribusi bantuan. Berdasarkan laporan Kantor Media Pemerintah Gaza, rata-rata hanya 244 truk bantuan yang masuk setiap harinya. Angka ini jauh dari kesepakatan awal yang memandatkan 600 truk per hari. 

Setali tiga uang, pasokan bahan bakar pun sangat minim, yakni hanya lima truk per hari dari target 50 truk. Secara total, tingkat kepatuhan terhadap perjanjian bantuan ini tak sampai 41 persen.

Pelanggaran yang Menumpuk

Gencatan senjata yang seharusnya menjadi akhir dari perang genosida sejak Oktober 2023, nyatanya kerap dinodai. Tercatat ada 875 pelanggaran yang dilakukan militer Israel selama masa jeda perang ini. Dampaknya sangat fatal: 411 nyawa melayang dan lebih dari seribu orang luka-luka di tengah klaim “damai”.

Sejak awal agresi setahun lalu, sejarah mencatat nestapa Gaza telah menelan hampir 71.000 korban jiwa, yang mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Angka luka-luka bahkan menembus 171.000 orang.

Saat ini, tim UNRWA di lapangan —yang sebagian besar stafnya juga menjadi pengungsi— tetap berjibaku memberikan dukungan semampunya. Namun, tanpa pembukaan akses bantuan secara penuh dan penghentian pelanggaran militer yang nyata, gencatan senjata ini hanyalah sekadar jeda sebelum bencana yang lebih besar kembali melanda.