Genderang perang di kawasan Teluk kian nyaring bertalu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya sudah dalam posisi siaga satu dan siap melayani tantangan perang habis-habisan jika Amerika Serikat (AS) nekat meluncurkan agresi.
Pernyataan keras ini merupakan respons langsung atas ancaman Presiden AS Donald Trump yang mengirim sinyal ‘penghancuran’ melalui media sosial. Araghchi memastikan militer Iran tidak akan tinggal diam jika kedaulatan mereka diusik sedikit pun.
Belajar dari Perang 12 Hari
Araghchi menyebutkan bahwa militer Iran kini jauh lebih tangguh. Pengalaman pahit “Perang 12 Hari” yang pecah pada Juni tahun lalu telah menjadi kurikulum berharga bagi angkatan bersenjata Iran dalam menyusun strategi pertahanan.
“Angkatan Bersenjata kami yang gagah berani sudah siap merespons dengan kuat setiap agresi terhadap tanah, udara, dan perairan kami. Pelajaran dari Perang 12 Hari memungkinkan kami merespons lebih cepat, kuat, dan mendalam,” tegas Araghchi melalui unggahan resminya, Rabu (28/1/2026) malam.
Gertakan ‘Midnight Hammer’ dan Armada Trump
Di belahan dunia lain, Donald Trump melalui akun Truth Social terus menekan Teheran agar menyerah pada urusan program nuklir. Ia memamerkan pergerakan ‘armada besar’ yang tengah membelah samudra menuju Iran dengan misi yang ia sebut bisa diselesaikan dengan ‘kekerasan jika diperlukan’.
Trump bahkan mengungkit memori kelam ‘Operasi Midnight Hammer’ sebagai pengingat betapa destruktifnya kekuatan AS.
“Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan sampai itu terjadi lagi. Buat kesepakatan!” tulis Trump dengan nada mengancam.
Washington yang awalnya mengincar Iran karena isu penindasan demonstran domestik, kini secara terang-terangan menggunakan ambisi nuklir Teheran sebagai legitimasi serangan.
Adu Otot di Selat Hormuz
Situasi di lapangan kini sangat cair dan berbahaya. Kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan sudah merapat di perairan Timur Tengah.
Sebagai jawaban, sejak Selasa (27/1/2026), Iran menggelar latihan perang masif di Selat Hormuz. Tak mau kalah, AS juga mengumumkan latihan Angkatan Udara besar-besaran di kawasan yang sama.
Dua kekuatan besar ini kini berada dalam jarak tembak, menunggu siapa yang lebih dulu menarik pelatuk.









