Ilustrasi ancaman hantavirus. (Dok. Inilah.com)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Praktisi Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Ngabila Salama, menilai penanganan hantavirus perlu dilakukan melalui strategi ‘Detect-Prevent-Response’, untuk mencegah penyebaran dan menekan risiko kematian akibat penyakit tersebut.
Ngabila menjelaskan, langkah pertama yang harus diperkuat adalah deteksi dini kasus sebanyak mungkin agar pasien dapat segera diisolasi dan ditangani.
“Hantavirus ini perlu dilakukan Detect-Prevent-Response, di mana detect, deteksi kasus sedini mungkin sebanyak-banyaknya dan dilakukan isolasi,” kata Ngabila kepada Inilah.com, Selasa (19/5/2026).
Ia juga menekankan pentingnya kebijakan berbasis data dalam penanganan penyakit menular, termasuk keterbukaan informasi mengenai jumlah kasus.
“Data-driven policy, tidak ada data yang ditutup-tutupi,” ujarnya.
Menurut Ngabila, langkah pencegahan atau prevent dapat dilakukan melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat, termasuk menjaga kebersihan rumah agar tidak menjadi sarang tikus.
Sementara pada tahap response, pemerintah dan tenaga kesehatan perlu memastikan deteksi dini, isolasi pasien, serta penanganan cepat untuk mencegah komplikasi berat.
Ngabila mengatakan, masyarakat tidak perlu panik karena penularan hantavirus hingga kini masih lebih banyak terjadi dari tikus ke manusia dibandingkan antarmanusia.
Ia menjelaskan, penularan dapat terjadi saat seseorang menghirup partikel dari kotoran atau urine tikus yang terkontaminasi virus.
“Semoga masyarakat dapat menghindarinya, beres-beres rumah jangan sampai ada tikus bersarang dan juga pakai masker agar tidak menghirup kotoran tikus, kencing tikus maupun yang lainnya,” tambah Ngabila.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













