Photobox ‘Ngetren’ Lagi, Nostalgia Kertas Foto di Era Swipe

Clara Medium.jpeg

Minggu, 18 Januari 2026 – 20:57 WIB

Ilustrasi Photobox. (Foto: Tripzilla)

Ilustrasi Photobox. (Foto: Tripzilla)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Lorong-lorong Blok M Square, Jakarta Selatan, kini punya magnet baru. Di antara tenant lama dan aroma makanan kaki lima, antrean mengular di depan kotak kecil bercahaya terang. Bukan butik, bukan kafe instagenik, tapi bilik mungil photobox yang menangkap tawa dan ekspresi jujur dalam hitungan detik.

Setiap akhir pekan, demam photobox merayap. Gerombolan sahabat, pasangan, atau anak muda yang datang sendirian sabar menunggu giliran sekadar untuk empat sampai enam frame. Gaya bebas, muka datar ala idol Korea, atau pose absurd, semuanya boleh.

Annisa (25) salah satu penggemarnya. Sudah berkali-kali datang hanya untuk mengumpulkan strip kenangan bersama pacarnya. “Sudah beberapa kali sih photobox di Blok M. Mulai dari yang hasilnya kamera roll, yang foto biasa sampai yang model koran kayak di luar negeri juga pernah,” ucapnya riang.

Kadang ia harus berdiri lama hanya demi selembar kertas kecil itu. “Kadang antre sampe 30 menit, kadang juga cepet sih. Tergantung dari background fotonya, biasanya kalau yang baru-baru viral pasti lama banget antrenya,” katanya.

Magnet itu bukan tanpa alasan. Budaya Korea Selatan sudah lama hinggap di saku dan playlist Gen Z. Photobox dengan latar polos tanpa retouch jadi “mainan” baru yang terasa lebih hidup dibanding ratusan hasil kamera ponsel yang jarang dicetak.

Blok M pun menjadi panggung tepat. Kawasan ini kembali bernapas sebagai titik kumpul muda-mudi. Photobox menyempurnakan ekosistem hiburan yang ramah dompet dan spontan dengan tarif Rp30 ribu hingga Rp60 ribuan, pengunjung membawa pulang benda nyata yang bisa disentuh, diselipkan, diklip di tas.

Bagi sebagian, ini semacam ritual. Selesai makan atau ngopi, mampir photobox jadi penutup agenda. Hasilnya menempel di casing HP, masuk dompet, atau digantung seperti aksesori identitas pribadi.

Ketika dunia digital menguap secepat swipe, secarik foto dari mesin itu justru terasa lebih berharga. Di Blok M, lampu blitz kecil itu bukan hanya menangkap wajah, tapi juga menyimpan momen, tawa, dan kenangan yang tak ingin lewat begitu saja.