Perang Iran vs AS-Israel Buat Rusia Untung hingga Rp13 Triliun, Kok Bisa?

Nebby Medium.jpeg

Minggu, 22 Maret 2026 – 02:05 WIB

Presiden AS Donald Trump sempat menyeret beberapa negara besar, seperti Inggris, Jepang, China dan Korea Selatan untuk mengirim kapal perang mereka demi mengamankan jalur aman Selat Hormuz, yang diduga ditutup oleh Iran. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)

Presiden AS Donald Trump sempat menyeret beberapa negara besar, seperti Inggris, Jepang, China dan Korea Selatan untuk mengirim kapal perang mereka demi mengamankan jalur aman Selat Hormuz, yang diduga ditutup oleh Iran. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memicu kenaikan harga minyak dunia secara signifikan. Keadaan ini justru menjadi angin segar bagi Rusia, negara yang selama ini dibebani sanksi oleh AS dan Uni Eropa.

Melansir Al Jazeera, Sabtu (21/3/2026), harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan internasional naik menembus US$ 100 per barel sejak penutupan Selat Hormuz pada 28 Februari lalu. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik, yang masih sekitar US$ 65 per barel.

Kenaikan harga mendorong pemerintah AS untuk sementara melonggarkan sanksi bagi beberapa negara yang membeli minyak Rusia. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menambah pasokan minyak global, sehingga dapat menahan laju kenaikan harga.

Menurut perhitungan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), Rusia diperkirakan memperoleh tambahan pendapatan hingga US$ 777 juta atau sekitar Rp 13,15 triliun (kurs Rp 16.928 per dolar AS) dari penjualan minyak selama dua minggu pertama perang AS-Israel melawan Iran.

“Rusia telah muncul sebagai penerima manfaat utama dari konflik Timur Tengah karena kekosongan pasokan besar-besaran yang tercipta akibat penutupan Selat Hormuz,” ujar analis energi independen George Voloshin kepada Al Jazeera.

Keputusan AS untuk melonggarkan sanksi memberi Moskow kesempatan penting untuk berperan sebagai pemasok utama minyak mentah dunia selama blokade Iran, meningkatkan volume ekspor sekaligus pendapatan negara.

“Kilang-kilang global sangat membutuhkan minyak mentah medium-sour alternatif, kebutuhan yang secara khusus dipenuhi oleh jenis minyak mentah Urals Rusia,” tambah Voloshin.

India menjadi negara pertama yang menerima pengecualian terbatas dari AS untuk membeli minyak Rusia yang tengah berada di laut tanpa terkena sanksi ekonomi.

“Terdapat bukti jelas mengenai pengalihan logistik besar-besaran kargo minyak Rusia di tengah perjalanan. Beberapa kapal tanker yang awalnya menuju pelabuhan China memang telah mengubah arah ke India,” jelas Voloshin.

Menurut dia, pergeseran ini didorong oleh strategi agresif India untuk memperoleh kargo minyak bermasalah dengan harga diskon, sekaligus mengisi cadangan strategis dan memenuhi permintaan domestik, sambil mengurangi risiko dan biaya asuransi pengiriman jarak jauh melalui perairan yang diperebutkan.

Voloshin menambahkan, jika konflik Timur Tengah terus berlangsung dan sumber minyak lain sulit diakses, negara-negara mungkin tetap mencari minyak Rusia meski sanksi AS diberlakukan kembali.

“Jika hal itu berlanjut, importir utama seperti India mungkin merasa tidak punya pilihan selain terus membeli minyak Rusia untuk mencegah keruntuhan ekonomi domestik,” ujarnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang