Kursi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) masih kosong usai Iman Rachman menyatakan mundur di tengah pasar yang limbung.
Pemerintah belum juga mengumumkan siapa pejabat sementara yang akan mengisi posisi strategis itu. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa hanya memberi sinyal, nama pengganti bakal muncul awal pekan depan. Ia tak merinci siapa sosok yang dimaksud.
“Kayaknya sekarang udah pjs (pejabat sementara) nanti enggak lama, Senin,” ujar Purbaya di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik memastikan roda bursa tetap berputar normal dan pengambilan keputusan internal tak akan tersendat.
“Kami juga menegaskan komitmen kami untuk membangun pasar modal Indonesia berkelas dunia tidak hanya setara dalam hal nilai perdagangan dan kapitalisasi pasar, tetapi juga setara dalam transparansi dan tata kelola,” kata Jeffrey.
BEI akan terus meningkatkan transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia serta perkembangan terkait dengan kebutuhan Indeks Provider Global.
“Kami sudah berkomunikasi dengan beberapa Indeks Provider Global, dan kami sudah menampung apa yang diharapkan, dan semua itu akan kami deliver dalam waktu secepat mungkin untuk memberikan kenyamanan dan perlindungan kepada seluruh investor, baik investor global maupun investor domestik kita,” tuturnya.
Seperti diberitakan, Iman Rachman mundur dari kursi Dirut BEI setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk dua hari berturut-turut hingga memicu trading halt pada 28–29 Januari 2026.
Kepanikan pasar dipicu keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menerapkan temporary treatment terhadap saham Indonesia. Iman mengaku angkat tangan.
“Bahwa saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur utama Bursa Efek Indonesia,” ujarnya di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Ia menyebut langkah itu sebagai bentuk tanggung jawab pribadi karena gagal menahan gejolak pasar.
“Saya berharap ini yang terbaik buat pasar modal. Semoga dengan pengundurannya saya ini, pasar modal kita jadi lebih baik. Saya percaya bahwa ini bentuk tanggung jawab saya dan sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia,” kata dia.
IHSG Rontok, Siapa Punya Kepentingan?
Ekonom Yanuar Rizky menilai kejatuhan IHSG tak berdiri sendiri. Pernyataan MSCI soal investability pasar Indonesia menjadi pemantik sentimen.
Padahal, menurut Yanuar, MSCI sudah lama tahu problem free float dan struktur kepemilikan saham di Indonesia. Yang jadi soal: kenapa isu itu baru dilempar saat pasar sedang rapuh.
“MSCI hanya riset, dia tidak mempunyai fungsi trading. Nah sekarang siapa pemegang di atas 5 persen MSCI? Pemegang di atas 5 persen, sekitar 8 persen yang megang (adalah) Vanguard. Itu adalah hedge fund. Di bawahnya BlackRock (juga hedge fund). Terus ada beberapa hedge fund lagi. Jadi ada yang di atas 5 persen sekitar 7 hedge fund,” kata Yanuar, dikutip Sabtu (31/1/2026).
Menurutnya, laporan MSCI bisa menjadi pembenaran bagi tekanan hedge fund.
“Kenapa hedge fund masuk ke emerging market yang isunya banyak, yang otoritasnya lemah di Indonesia? Karena dia tahu otoritas di sini mana berani sama gue? Jadi artinya saya ingin mengatakan jangan jadi serigala berbulu domba lah,” tegasnya.
MSCI sebelumnya menyoroti free float, likuiditas, konsentrasi kepemilikan, hingga konsistensi regulasi. Pasar membaca itu sebagai sinyal negatif. Saham-saham besar dilepas. IHSG jatuh. BEI menekan rem lewat trading halt.
Yanuar mengingatkan situasi global kini mirip era 1980-an, saat tekanan ekonomi dipakai sebagai alat politik. Ia meminta Presiden Prabowo Subianto tak meremehkan manuver hedge fund.
“Dengan masuknya Indonesia ke Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump, dan sikap tegas Indonesia soal Israel, kesan saya Presiden Prabowo sedang menyampaikan pesan ‘kita dibantu, jangan dihantam’,” pungkasnya.













