OJK Buka Suara Atas Penilaian MSCI untuk Pasar Modal Indonesia

Iwan Medium.jpeg

Minggu, 21 Juni 2026 – 15:24 WIB

Ilustrasi lantai bursa di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Foto: Antara).

Ilustrasi lantai bursa di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Foto: Antara).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Lagi-lagi, Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan penilaian kriteria aksesibilitas arus informasi (information flow dan foreign exchange market liberalization level) pasar modal Indonesia, menjadi negatif.

Alasannya, MSCI masih melihat kekhawatiran investor asing terkait transparansi struktur kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Atas penilaian ini, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (Otoritas Jasa Keuangan), Hasan Fawzi, menegaskan, secara umum, mayoritas aspek aksesibilitas pasar saham di Indonesia, tetap terjaga dan tidak mengalami perubahan penilaian yang signifikan. “Pasalnya hanya ada dua dari 18 kriteria aksesibilitas pasar yang mendapat penilaian negatif dari MSCI,” bebernya di Jakarta, dikutip Minggu (21/6/2026).

Hasan menjelaskan, terdapat 10 dari aksesibilitas pasar modal RI yang mendapat penilaian double plus (++). Kemudian, enam kriteria lainnya mendapat penilaian plus (+). Hanya dua kriteria yang mendapat penilaian negatif (-), selanjutnya disebut menjadi fokus yang harus diperbaiki.

“Pada kriteria Information Flow dan Foreign Exchange Market Liberalization Level dinilai negatif, yang menunjukkan adanya perhatian untuk ada perbaikan,” ungkap Hasan.

Dia menjelaskan, penilaian tersebut menjadi bagian dari proses evaluasi yang sejalan dengan reformasi pasar modal saat ini. Di mana, MSCI mengakui sejumlah perbaikan yang dilakukan self-regulatory organization (SRO) pasar modal, termasuk mengenai foreign exchange market liberalization level atau tingkat kebebasan dalam transaksi efek menggunakan valuta asing (valas).

“Sebagai langkah tindak lanjut, kami terus melakukan koordinasi intensif di internal OJK dan dengan otoritas terkait seperti Bank Indonesia guna memastikan ke depan akan lebih baik dengan tetap memperhatikan mitigasi risiko yang governed dan sejalan dengan kebijakan makroprudensial nasional untuk mencegah volatilitas pasar,” jelas Hasan.

Hasan mengatakan SRO telah mendorong reformasi untuk meningkatkan kualitas dan daya saing pasar modal domestik. Sejumlah inisiatif ini mencakup peningkatan kualitas data kepemilikan saham, penguatan keterbukaan informasi, pengembangan kerangka pelaporan beneficial ownership, peningkatan kapasitas surveillance dan pengawasan perdagangan.

Langkah inisiatif ini juga telah disambut positif oleh sejumlah lembaga penyedia indeks saham global seperti MSCI dan FTSE Russell. Hasan mengaku akan memperkuat koordinasi dan dialog konstruktif dengan berbagai penyedia indeks global dan investor asing untuk memastikan reformasi yang dilakukan dapat dipahami.

“Kami memandang masukan MSCI sebagai bagian dari proses perbaikan yang konstruktif. Dengan konsistensi reformasi yang sedang berjalan, kami optimis kualitas dan daya saing pasar modal Indonesia akan terus menguat ke depan,” pungkas Hasan.
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang