Modal 8.000 Pasukan di Gaza, Indonesia Kini Jadi Pemain Kunci Penentu Nasib Palestina!

Indonesia kini bukan lagi sekadar penonton dalam krisis Timur Tengah. Dengan rencana pengiriman 8.000 personel TNI ke Jalur Gaza, Jakarta secara de facto memegang kendali strategis dalam Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF). Langkah berani di bawah bendera Dewan Perdamaian (Board of Peace) ini menempatkan Indonesia pada posisi tawar yang tak bisa dipandang sebelah mata, bahkan oleh Gedung Putih sekalipun.

Kepala Departemen Hubungan Internasional CSIS, Lina Alexandra, menilai postur kekuatan militer Indonesia yang masif di lapangan (boots on the ground) adalah modal emas. Dengan jumlah pasukan terbanyak, Indonesia punya mandat moral dan politik untuk menjadi ‘dirigen’ yang mengarahkan perdamaian menuju solusi dua negara (two-state solution).

Daya Tawar RI di Hadapan Trump

Besarnya kontribusi pasukan Indonesia memberikan legitimasi bagi Jakarta untuk memiliki suara yang lebih lantang (bigger say) dalam memengaruhi keputusan di Dewan Perdamaian yang dipimpin Presiden AS Donald Trump. Indonesia tidak datang sebagai pelengkap, melainkan sebagai tulang punggung stabilitas di Gaza.

“Karena pasukan kita yang paling banyak, seharusnya karena kita punya boots on the ground, kita punya pengaruh yang lebih besar untuk memengaruhi keputusan,” ujar Lina dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (22/2/2026).

Eksistensi TNI di Gaza bukan sekadar penjagaan, melainkan misi kemanusiaan agung untuk membangun kembali fasilitas publik yang luluh lantak. Inilah yang menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan Presiden RI di kancah global semakin disegani.

Menjaga Marwah: Mandat Kemanusiaan di Atas Segalanya

Indonesia dipastikan akan sangat selektif dan tegas dalam menetapkan aturan keterlibatan (rules of engagement). Meski berada dalam koordinasi internasional, marwah TNI sebagai pasukan perdamaian tetap tegak lurus pada konstitusi. RI dipastikan tidak akan terjebak dalam kepentingan sempit pelucutan senjata pihak tertentu, melainkan fokus pada perlindungan warga sipil.

Sikap waspada ini justru menunjukkan kematangan diplomasi Indonesia. Jakarta memahami betul dinamika di lapangan, termasuk respons berbagai faksi di Gaza, sehingga langkah yang diambil dipastikan sangat terukur demi keselamatan prajurit dan keberhasilan misi perdamaian.

Strategi Cerdas dan Berdaulat

Kekuatan posisi Indonesia juga tercermin dari sikap tegas Presiden yang menyatakan siap menarik diri jika Dewan Perdamaian melenceng dari prinsip kemerdekaan Palestina. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara berdaulat yang tidak bisa didikte oleh kepentingan kekuatan besar mana pun.

Langkah pengiriman pasukan ini menjadi momentum emas bagi Indonesia untuk menagih komitmen nyata dari Amerika Serikat agar Dewan Perdamaian benar-benar menjadi jalan keluar bagi terwujudnya perdamaian abadi melalui solusi dua negara. Di tangan para perwira terbaik TNI, harapan besar dunia kini tertumpu pada Indonesia untuk mengakhiri penderitaan di tanah Palestina.