Menlu Araghchi: Iran tak akan Menahan Diri Jika Infrastruktur Vital Diserang!

Ikhsan Medium.jpeg

Sabtu, 21 Maret 2026 – 04:55 WIB

Para pelayat mengucapkan selamat tinggal kepada jenazah menteri intelijen Iran yang tewas, Esmaeil Khatib, dan keluarganya selama pemakaman mereka, setelah salat Jumat di Teheran, 20 Maret 2026. (Foto: AFP)

Para pelayat mengucapkan selamat tinggal kepada jenazah menteri intelijen Iran yang tewas, Esmaeil Khatib, dan keluarganya selama pemakaman mereka, setelah salat Jumat di Teheran, 20 Maret 2026. (Foto: AFP)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Eskalasi konflik di Timur Tengah kini berada di titik yang sangat berbahaya. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan peringatan keras kepada aliansi Amerika Serikat (AS) dan Israel bahwa Teheran ‘tidak akan menahan diri sama sekali’ jika infrastruktur nasional mereka dijadikan target serangan.

Pernyataan ini bukan sekadar gertakan diplomasi. Melansir laporan kantor berita Anadolu, Araghchi menegaskan bahwa pihaknya telah mengantongi informasi intelijen valid mengenai rencana Israel yang mengincar fasilitas-fasilitas vital di Iran. 

Peringatan ini disampaikan Araghchi melalui akun media sosial resminya, sekaligus merespons dinamika tempur yang kian memanas di kawasan tersebut.

“Sekali lagi: Tidak akan ada pengekangan sama sekali jika infrastruktur kami diserang,” tulis Araghchi dengan nada tegas, sebagaimana dikutip pada Sabtu (21/3/2026).

Diplomasi di Tengah Desing Peluru

Dalam unggahannya, Araghchi juga menyertakan video pernyataan Presiden AS Donald Trump. Video tersebut menampilkan klaim Trump yang meyakini bahwa Iran berniat menyerang aset Amerika berdasarkan informasi dari pejabat tinggi Washington.

Namun, Araghchi menepis narasi tersebut dengan menekankan prinsip moral bangsa Iran. Ia menegaskan bahwa rakyat Iran adalah sosok yang berprinsip dan tidak akan melakukan serangan mendadak saat proses dialog masih berlangsung.

“Rakyat Iran tidak melakukan serangan mendadak terhadap musuh saat sedang berdialog. Hanya ketika diserang barulah kami merespons dengan kuat,” cetusnya.

Konflik Tanpa Henti Sejak Februari

Bara peperangan ini bermula sejak 28 Februari lalu, saat Israel dan Amerika Serikat melancarkan agresi gabungan ke jantung pertahanan Iran. Serangan tersebut membawa dampak katastropik dengan jatuhnya korban jiwa mencapai 1.300 orang, termasuk gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran kala itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Menanggapi agresi tersebut, Teheran tidak tinggal diam. Sebagaimana dilaporkan Anadolu, Iran telah meluncurkan gelombang balasan menggunakan kawanan pesawat nirawak (drone) dan rudal balistik. Serangan balasan ini menyasar titik-titik strategis di Israel, Yordania, Irak, hingga sejumlah negara Teluk yang menampung basis militer Amerika Serikat.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di medan laga. Perang terbuka ini telah mengganggu stabilitas pasar energi global dan mengacaukan rute penerbangan internasional. 

Dengan ancaman terbaru dari Araghchi ini, dunia kini menanti apakah diplomasi masih memiliki ruang, ataukah kawasan ini benar-benar akan tenggelam dalam perang total yang menghancurkan seluruh infrastruktur ekonomi Timur Tengah.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang