warga antusias membuat lemang jelang lebaran (Foto:Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Di atas tumpukan tanah yang kini mengeras dan rata, kepul asap tipis membubung ke langit Kelurahan Pasar Tukka. Di bawahnya, jajaran bambu berisi beras ketan dan santan perlahan matang dipanggang api.
Aroma gurih khas lemang menyeruak, mencoba mengalahkan bau tanah kering bekas banjir bandang yang sempat meluluhlantakkan wilayah ini pada November 2025 lalu.
Bagi Lismawarni Siagian, memasak lemang menjelang Lebaran bukan sekadar perkara menyiapkan hidangan meja makan. Ini adalah ritual “pulang”.
Meski kini ia terpaksa mengontrak rumah di desa tetangga karena kediamannya terkubur lumpur, Lismawarni sengaja kembali ke titik koordinat yang dulu adalah dapur rumahnya. Di sana, di atas tanah yang kini bahkan bisa dilintasi kendaraan, ia menyalakan api.
“Sengaja saya bakar lemang ini di atas rumah saya yang terkubur. Karena memang setiap tahunnya, saya membuat lemang ya di sini,” ujarnya dengan suara tenang namun menyimpan keteguhan, Jumat (20/3).
Bagi Lismawarni, tiap letupan bambu di atas api adalah cara ia menjemput kembali kenangan indah sebelum bencana mengubah garis hidupnya. Di tanah yang kini rata itu, dulu ada tawa keluarga dan riuh tetangga yang bergotong-royong menyongsong Idul Fitri.
Tak jauh dari situ, pemandangan serupa terlihat di kediaman Hotnida Simanjuntak. Rumahnya memang masih berdiri, namun sebagian besar bangunannya sudah “ditelan” bumi, menyisakan halaman yang kini tertimbun lumpur pekat yang telah memadat.
Di halaman yang kini lebih tinggi dari lantai aslinya itu, Hotnida setia membolak-balik bambu lemangnya. Baginya, lemang adalah penyambung napas ekonomi di tengah sulitnya masa pemulihan pascabencana.
Satu batang lemang ia hargai Rp40.000. Meski pesanan tak sederas tahun-tahun sebelumnya, setiap rupiah yang masuk dari hasil penjualan lemang sangat berarti untuk menyambung hidup sehari-hari.
“Lemang ini tidak untuk kita saja, ada juga pesanan warga. Tidak banyak memang, tapi ya alhamdulillah,” kata Hotnida.
Lemang mungkin memang berakar dari tradisi Minang, namun bagi warga Tukka di Tapanuli Tengah, makanan ini telah menjadi identitas wajib setiap Idul Fitri dan Tahun Baru. Banjir bandang boleh saja mengubur harta benda dan bangunan, namun ia gagal menghanyutkan tradisi yang sudah mendarah daging.
Di Pasar Tukka, wangi lemang tahun ini bukan sekadar aroma santan dan ketan. Ia adalah aroma ketabahan—sebuah pesan bisu bahwa hidup harus terus berjalan, meski harus dimulai dari atas puing-puing rumah yang telah tiada.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










