Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam kegiatan ILUNI UI dan Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara (Ikastara) bertajuk ‘Dari Infrastruktur ke Inklusivitas: Jalan Menuju Ekonomi 8 persen’, di Jakarta, Selasa (9/12/2025). (Foto: Inilah.com/ Diana Rizki)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan, bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, bukan hanya persoalan infrastruktur, namun lebih dari itu adalah masalah kemanusiaan.
Hal tersebut disampaikan Menko AHY dalam kegiatan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) dan Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara (Ikastara) bertajuk ‘Dari Infrastruktur ke Inklusivitas: Jalan
Menuju Ekonomi 8 persen’.
“Ini bukan hanya masalah infrastruktur, ini masalah manusia yang lebih utama. Jadi mari kita menggerakkan hati dan pikiran kita untuk membantu saudara-saudara kita. ‘What if’, selalu berpikir seperti itu kalau terjadi lagi yang tidak kita harapkan,” tutur Menko AHY di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Selasa (9/12/2025).
Selanjutnya Menko AHY menyebutkan, dari 23 kabupaten/kota yang ada di Aceh, 18 di antaranya terdampak bencana. Kemudian dari 33 kabupaten/kota di Sumatera Utara, yang terdampak sebanyak 18, dan di Sumatera Barat terdapat 16 kabupaten/kota yang terdampak dari total 19.
“Memang jika dibandingkan dengan tragedi kemanusiaan terbesar di awal abad 21, yaitu tsunami 2004, 200.000 orang meninggal dan hilang dari sisi skala korbannya memang tidak sebesar itu, tetapi kalau melihat wilayah yang terdampak justru saat ini tiga provinsi dan puluhan kabupaten/kota benar-benar bisa dikatakan terdampak,” ungkapnya.
Dari sisi infrastruktur, Menko AHY menyoroti rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana menjadi hal yang penting. Tentu, kata dia, tugas utama pihaknya adalah membangun kembali.
“But don’t just rebuild, build better, build stronger. Jangan sampai kemudian cepat tapi kemudian kualitasnya juga tidak baik, sehingga juga pada akhirnya tidak tahan terhadap bencana alam,” tutur Menko AHY menegaskan.














