Booth BYD Indonesia di ajang GIIAS 2025. (Foto: Xinhua)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pertumbuhan populasi kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di Indonesia ternyata menyimpan anomali. Alih-alih memperbesar kue industri otomotif dengan menjaring pembeli baru, tren yang terjadi saat ini justru disebut sebagai fenomena “kanibalisme pasar”.
Research Associate ID COMM, Claudius Surya, mengungkapkan bahwa lonjakan penjualan mobil listrik belakangan ini lebih disebabkan oleh perpindahan konsumen mobil konvensional (ICE) ke listrik akibat perang harga, bukan karena terciptanya ceruk pasar baru.
“Yang terjadi sekarang adalah peralihan dari mobil ICE ke mobil listrik, bukan penambahan pembeli baru. Konsumennya itu-itu saja, hanya bergeser karena harga makin agresif,” tegas Claudius dalam peluncuran riset “Menuju Era Mobil Listrik: Sejauh Mana Indonesia Siap” di Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Jebakan Perang Harga
Claudius menyoroti strategi “banting harga” yang dilakukan para produsen EV demi merebut pangsa pasar. Meski menguntungkan konsumen sesaat, strategi ini dinilai tidak sehat bagi keberlanjutan industri. Pemangkasan margin keuntungan secara ekstrem berisiko menumbangkan merek-merek yang tidak memiliki napas finansial panjang.
“Price war ini di satu sisi menguntungkan konsumen, tapi berisiko membuat beberapa merek tidak bertahan karena margin makin tipis dan persaingan makin keras,” paparnya.
Tekanan bagi pabrikan kian berat dengan siklus pembaruan model EV yang jauh lebih cepat dibandingkan mobil bensin. Claudius mencatat, facelift atau pembaruan model EV kini terjadi hanya dalam kurun waktu dua tahun, memaksa industri untuk beradaptasi dengan ritme yang sangat agresif.
Eksklusif di Kelas Atas
Fakta lain yang diungkap riset ini adalah adopsi EV yang belum inklusif. Harapan agar pengguna mobil murah (LCGC/LMPV) beralih ke listrik belum terealisasi secara signifikan. Pasar EV saat ini masih didominasi oleh kelompok ekonomi menengah ke atas yang mencari “mainan” baru atau mobil kedua.
“Harapannya, pengguna mobil murah konvensional bisa naik ke mobil listrik, tapi faktanya belum. Yang membeli EV saat ini tetap kelompok menengah ke atas,” ujar Claudius.
Terkait preferensi, pasar Indonesia dinilai masih sangat tradisional. Merek-merek yang cepat tanggap menghadirkan mobil 7-penumpang dengan fitur yang “pas” (tidak berlebihan) namun value for money, terbukti lebih cepat melakukan penetrasi pasar.
Peran Komunitas dan Regulasi
Di fase awal adopsi ini, Claudius juga menekankan peran vital komunitas pengguna sebagai sumber validasi. Ketimbang iklan pabrikan, calon konsumen lebih percaya pada testimoni “mulut ke mulut” dari sesama pengguna di komunitas.
Menutup analisanya, Claudius memperingatkan pemerintah soal konsistensi regulasi. Industri membutuhkan kepastian jangka panjang, bukan aturan yang berubah-ubah, agar strategi investasi dan produk dapat disusun dengan matang.
“Selama pasar tetap atraktif dan regulasi mendukung, EV akan terus tumbuh. Tapi adopsinya perlu diarahkan agar tidak berhenti di segmen tertentu saja,” pungkasnya.














