LPDP, WNI, dan Empati

Sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) yang kuliah nggak pernah pakai uang negara. Pendidikan S2 dengan beasiswa pemerintah Turki+beasiswa Erasmus Eropa, kemudian S3 dengan beasiswa pemerintah China. Juga pernah ikut short course dari pemerintah Australia and Singapura, saya nggak pernah kepikiran buat pindah kewarganegaraan.

Alasannya simpel, saya yang sejak lahir menginjak tanah dan meminum air dari Indonesia ingin juga kelak dimandikan dan dimakamkan di Indonesia.

Tetapi, saya merasa tidak terganggu kalau ada WNI yang memiliki pilihan untuk pindah kewarganegaraan. Dengan syarat tidak merendahkan negaranya sendiri dan menyelesaikan kewajibannya terlebih dahulu, misal anak Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ya harus kembali dulu ke tanah air sesuai dengan kesepakatan komitmen yang telah ditandatangani.

Inilah pentingnya manajemen komunikasi, timing dan kebijaksanaan. Ini ibarat orang mau pindah agama. Kita nggak bisa melarang orang lain yang mau pindah agama (kecuali keluarga/saudara sendiri) asalkan dia tidak menjelek-jelekkan agama sebelumnya.

Saya sebel sekali kalau ada orang Islam yang pindah agama lain tapi menjelek-jelekkan Islam, sebaliknya kalau ada muallaf tapi menjelekkan agama yang dianut sebelumnya.

Terkait kasus Dwi Sasetyaningtyas, ini menjadi pukulan telak bagi LPDP. Ternyata ada lebih dari 400 awardee yang belum pulang ke tanah air.

LPDP harus berbenah. Jangan hanya mengandalkan tes akademik, esai dan wawancara sebagai seleksi utama.

Belum tentu orang yang pandai berbicara dan penuh janji manis itu benar-benar kompeten dan berintegritas. Kalau model begini, yang dapat hanya orang-orang dengan kategori ekonomi menengah ke atas yang dapat.

Meskipun sekarang ada juga jalur afirmasi tapi jumlahnya terbatas. Perlu ada transparansi dan membaca rekam jejak digital dan pengalaman si pendaftar. Selain itu pengutan cinta tanah air perlu terus ditanam dan dikembangkan bagi awardee secara berkala. Tanpa itu, LPDP hanya akan memproduksi para hipokrit.

Anyway, bekerja di negara manapun ada plus minusnya. Begitu juga dengan budaya masyarakatnya. Semua itu pilihan masing-masing. Tinggal kita bijak memilah, memilih dan menjaga empati.