Petugas menariki kabel jaringan internet yang rusak akibat abnjir Desa Meunasah Krueng, kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Jumat (28/11/2025). (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bergerak cepat memulihkan akses telekomunikasi yang lumpuh akibat bencana banjir dan longsor di Sumatra Barat (Sumbar).
Hingga Rabu (3/12/2025), Komdigi tengah memulihkan 145 unit Base Transceiver Station (BTS) dan mendistribusikan bantuan internet satelit ke titik-titik isolasi.
Kepala Balai Monitor Kelas II Padang Kementerian Komdigi, Helmi, menyatakan bahwa langkah darurat ini diambil untuk memastikan jalur koordinasi penanganan bencana kembali terhubung.
“Melalui pengerahan personel di lapangan, jalur komunikasi yang terputus segera terkoneksi kembali,” ujar Helmi dalam keterangan yang disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta.
Sebagai solusi taktis bagi wilayah yang infrastruktur kabelnya putus total, Komdigi mengerahkan 32 unit internet satelit Starlink. Helmi menegaskan bahwa akses internet canggih ini disediakan sepenuhnya secara cuma-cuma untuk warga dan tim relawan.
“Bantuan alat satelit internet ini gratis. Penggunaan fasilitas ini tidak dipungut biaya,” tegasnya.
Perangkat Starlink ini memiliki cakupan sinyal 500 meter hingga 1 kilometer dan mampu menampung hingga 60 pengguna secara bersamaan, asalkan mendapat pasokan listrik dan tidak ada halangan fisik ke arah langit.
Peta Kerusakan Infrastruktur
Berdasarkan dasbor sistem informasi pemantauan per 3 Desember 2025, tercatat 154 unit BTS mengalami gangguan dari total 3.739 BTS yang ada di Sumbar, atau sekitar 4 persen.
Helmi merinci penyebab gangguan tersebut:
124 unit mati akibat terputusnya pasokan listrik (PLN).
29 unit mengalami gangguan transmisi akibat koneksi fiber optik atau radio link yang putus.
1 unit mengalami kerusakan fisik parah akibat terbawa arus banjir.
Wilayah dengan dampak kerusakan BTS terparah meliputi Kabupaten Agam (45 BTS), Pasaman (37 BTS), Padang Pariaman (18 BTS), dan Solok (14 BTS). Gangguan juga tersebar di Kota Padang, Kota Solok, Pasaman Barat, Pariaman, Tanah Datar, Pesisir Selatan, hingga Sijunjung.
Untuk mengatasi masalah daya, petugas Balai Monitoring telah mengerahkan genset portable guna menopang operasional BTS yang masih utuh secara fisik namun kehilangan pasokan listrik.
Radio Komunikasi Gunung Singgalang
Selain jaringan seluler dan internet, Komdigi juga mengoptimalkan komunikasi radio konvensional yang krusial bagi tim SAR. Balai Monitor mengoperasikan repeater kebencanaan yang terpasang di puncak Gunung Singgalang.
Jangkauan repeater ini sangat luas, mencakup 9 hingga 10 kabupaten/kota di Sumbar. Fasilitas ini kini menjadi tulang punggung komunikasi bagi BPBD, petugas pemadam kebakaran (PPTD), serta organisasi radio amatir seperti Orari dan RAPI dalam koordinasi evakuasi.
Kepala Diskominfotik Provinsi Sumbar, Rudi Rinaldi, menambahkan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan BPBD di tingkat kabupaten/kota untuk memastikan distribusi perangkat Starlink tepat sasaran ke wilayah yang paling membutuhkan (blank spot).














