Perjalanan panjang dan gemilang Cristiano Ronaldo di pentas Piala Dunia resmi berakhir dengan derai air mata.
Kapten Tim Nasional Portugal itu harus merelakan mimpi terakhirnya merengkuh trofi Piala Dunia usai Selecao das Quinas disingkirkan oleh Spanyol dengan skor 0-1 pada laga babak 16 besar di AT&T Stadium (Dallas Stadium), Arlington, Texas, Senin (6/7) waktu setempat.
Kekalahan menyakitkan Portugal dipastikan lewat gol telat gelandang Spanyol, Mikel Merino, tepat pada menit pertama masa injury time babak kedua.
Sesaat setelah peluit panjang berbunyi, Ronaldo tampak sangat emosional. Ia terlihat menyeka air mata sambil memberikan tepuk tangan penghormatan kepada para penggemar di tribun.
Di usianya yang menginjak 41 tahun, karier Piala Dunia sang megabintang berakhir dengan 27 penampilan—terbanyak kedua sepanjang sejarah di bawah Lionel Messi (30)—namun tanpa satu pun trofi emas Piala Dunia di lemarinya.

”Hati Nurani Saya Bersih”
Meski harus mengakhiri turnamen dengan kesedihan, penyerang Al Nassr tersebut menegaskan bahwa ia pergi tanpa penyesalan. Ia secara resmi mengonfirmasi bahwa turnamen 2026 ini adalah Piala Dunia terakhirnya, namun belum menutup pintu sepenuhnya untuk kembali membela tim nasional.
”Saya sedih harus meninggalkan Piala Dunia dengan cara seperti ini,” ujar Ronaldo kepada wartawan seusai laga.
“Seperti yang saya katakan kemarin, saya telah memberikan segalanya, dan saya pergi dengan hati nurani yang bersih. Itulah kehidupan seorang pesepak bola. Anda harus terus bergerak maju.”
Mengenai masa depannya, Ronaldo memilih untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan.
“Ini adalah Piala Dunia terakhir saya, ya. Namun untuk hal lainnya, ada waktu untuk berpikir, untuk bersama keluarga saya, dan tidak mengatakan hal-hal di saat emosi sedang memuncak.”
Ronaldo juga menekankan bahwa meski trofi Piala Dunia luput dari genggamannya, ia sangat bangga dengan pencapaiannya membawa Portugal menjuarai turnamen mayor sebelumnya.
“Saya telah memberikan segalanya. Saya telah memenangkan tiga gelar bersama Portugal. Gelar (Euro) 2016 berada pada level yang sama dengan sebuah Piala Dunia,” tegas pemegang rekor gol internasional terbanyak (146 gol) dan penampilan terbanyak (233 caps) tersebut.
Roberto Martinez Mundur dan Bela Keputusannya
Laga sengit ini juga menjadi akhir kebersamaan pelatih Roberto Martinez bersama timnas Portugal. Pelatih asal Spanyol tersebut dilaporkan mengundurkan diri usai kekalahan ini, meski ia bersikeras bahwa skuadnya “tidak gagal” dalam turnamen ini.
Terkait taktiknya yang tetap mempertahankan Ronaldo bermain penuh selama 90 menit di tengah kebuntuan membongkar pertahanan Spanyol—dan menghadapi ketangguhan kiper Unai Simon yang sukses memperpanjang rekor tak kebobolan di Piala Dunia menjadi 609 menit—Martinez memberikan pembelaan yang tegas.
”Ketika Anda menjadi sebuah tim dan Anda membutuhkan gol, Anda tidak bisa menarik keluar Cristiano Ronaldo,” jelas Martinez.
“Dia bisa bermain 90 menit, tidak masalah. Dia adalah sebuah ancaman, dia membuka ruang, (berbahaya dalam) situasi bola mati, apa pun di dalam kotak penalti, menariknya keluar tidak akan masuk akal.”
”Di perpanjangan waktu, mungkin masuk akal untuk menggunakan Goncalo Ramos. Kami harus menjaga struktur, ini bukan saatnya untuk menarik keluar pencetak gol terbanyak Anda dalam waktu 90 menit,” belanya.
Sebagai penutup, Martinez memberikan penghormatan terakhir yang mendalam kepada anak asuhnya tersebut.
“Kita berbicara tentang ikon sepak bola. Tidak banyak Cristiano Ronaldo (di dunia ini). Kita harus berterima kasih atas apa yang dia lakukan di Piala Dunia ini. Sebagai seorang pemain, kapten, maupun di level kemanusiaan, kita semua akan mengenangnya selamanya,” pungkasnya










